Nats Alkitab:
"Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku. Rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku dan tempat apakah yang akan menjadi persemayaman-Ku? ... Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya, dan yang gemetar karena firman-Ku."
Mari kita bayangkan sebuah adegan yang sangat kontras. Di satu sisi, ada sebuah kemegahan yang tak terlukiskan: Langit yang tak terbatas adalah kursi bagi Tuhan, dan planet bumi hanyalah tempat Ia mengistirahatkan kaki-Nya. Bayangkan betapa kecilnya kita! Manusia sering kali sombong dengan membangun gedung-gedung tinggi atau gereja yang megah, berpikir bahwa Tuhan "butuh" tempat tinggal yang kita buat.
Namun, naskah Firman Tuhan di Yesaya 66 ini memberikan sebuah plot twist yang mengharukan. Tuhan yang begitu besar, yang tidak muat ditampung oleh alam semesta, justru sedang mencari satu "alamat" khusus untuk Ia tinggali. Dan alamat itu bukan gedung megah, melainkan hati manusia.
Tetapi, bukan sembarang hati. Dalam teologi kita, kita tahu bahwa Allah yang Maha Kudus hanya akan berdiam di hati yang menyadari ketidakberdayaannya. Dia memandang kepada orang yang "tertindas dan patah semangatnya". Ini bukan soal kemiskinan harta, melainkan kemiskinan rohani—orang yang sadar bahwa tanpa anugerah-Nya, ia sama sekali hampa.
Poin puncaknya adalah: "gemetar karena firman-Ku". Pernahkah hatimu bergetar saat membaca janji Tuhan atau saat ditegur oleh kebenaran-Nya? Gemetar ini bukan karena takut dihukum seperti budak, tetapi gemetar karena rasa hormat dan kagum ( awe ) seorang anak kepada Bapa yang begitu agung.
Tuhan tidak mencari ritual keagamaan yang kering (ayat 3). Dia mencari keintiman yang jujur. Hari ini, jangan tawarkan kepada Tuhan kemegahan dirimu atau amal baktimu sebagai "rumah" bagi-Nya. Datanglah dengan hati yang remuk, hati yang jujur mengakui dosa, dan hati yang tunduk pada Firman-Nya. Di sanalah Sang Raja Alam Semesta akan merasa "di rumah".
5 Pertanyaan Refleksi (Untuk Diskusi Kelompok)
- Tentang Perspektif: Jika langit adalah takhta Tuhan dan bumi hanya tumpuan kaki-Nya, bagaimana hal ini seharusnya mengubah cara kita memandang masalah-masalah hidup kita yang terasa "besar"?
- Tentang Ibadah: Ayat 3-4 memperingatkan tentang ritual yang tidak disertai hati. Pernahkah kita terjebak melakukan rutinitas pelayanan/gereja namun hati kita jauh dari kedaulatan Tuhan?
- Tentang Kerendahan Hati: Apa arti "patah semangat" dan "tertindas" secara rohani dalam kehidupan sehari-hari? Mengapa Tuhan lebih menyukai hati yang seperti ini daripada hati yang merasa "sudah suci"?
- Tentang Respons pada Firman: Apa arti praktis dari "gemetar karena firman-Nya"? Kapan terakhir kali sebuah ayat Alkitab benar-benar membuat Anda merasa gentar atau sangat terharu?
- Aplikasi: Bagaimana kita bisa membangun "tempat persemayaman" bagi Tuhan di dalam rumah tangga atau pekerjaan kita minggu ini melalui sikap hati yang tunduk?
Doa Penutup
Ya Allah yang Mahabesar, yang takhta-Mu melampaui segala langit.
Kami sadar betapa kecilnya kami di hadapan-Mu. Ampunilah kami jika sering kali kami merasa sombong dengan perbuatan baik kami, seolah-olah kami sedang mendirikan rumah yang layak bagi-Mu. Kami tahu, ya Tuhan, bahwa segala kesalehan kami tidak mampu menampung kemuliaan-Mu.
Hari ini, kami membawa hati kami yang patah dan remuk. Kami mengaku bahwa kami membutuhkan anugerah-Mu setiap detik. Biarlah hati kami menjadi tempat yang nyaman bagi-Mu untuk berdiam. Berikan kami hati yang selalu gemetar dan tunduk saat mendengar Firman-Mu. Kuasailah hidup kami sepenuhnya.
Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Imam Besar yang telah membukakan jalan bagi kami untuk mendekat pada takhta-Mu, kami berdoa. Amin.
TAKHTA-MU DI HATIKU YANG HANCUR