Nats Alkitab Pilihan:
“Kembalilah, hai anak-anak yang murtad! Aku akan menyembuhkan murtadmu.” — ”Inilah kami, kami datang kepada-Mu, sebab Engkaulah TUHAN, Allah kami.” - Yeremia 3:22 (TB2)
Kasih yang Lebih Besar dari Pengkhianatan
Mari kita hening sejenak. Bayangkan sebuah hubungan yang telah rusak parah karena pengkhianatan. Secara manusiawi, pintu maaf biasanya sudah tertutup rapat. Namun, di Yeremia 3, kita melihat pemandangan yang sangat berbeda.
Tuhan menggambarkan umat-Nya seperti seorang istri yang pergi meninggalkan suami dan mengejar kekasih-kekasih lain (berhala). Secara hukum dan logika, tidak ada alasan bagi Sang Suami untuk menerima kembali istri yang telah berulang kali tidak setia. Namun, inilah plot twist ilahi yang luar biasa: Tuhan tidak berteriak untuk menghukum, melainkan berbisik untuk memanggil: "Pulanglah."
Kata "murtad" di sini terdengar kasar, namun dalam bahasa aslinya mengandung makna "anak-anak yang berpaling" atau "anak yang tersesat". Tuhan tidak memandang kita sebagai musuh yang harus dibasmi, melainkan sebagai anak yang sakit dan butuh kesembuhan. Perhatikan janji-Nya: "Aku akan menyembuhkan murtadmu."
Kita sering berpikir bahwa kita harus "sembuh" dulu, baru bisa pulang kepada Tuhan. Kita harus "suci" dulu, baru berani berdoa. Namun, Yeremia 3 mengajarkan hal sebaliknya: Datanglah dalam keadaanmu yang hancur, dan Tuhanlah yang akan menyembuhkanmu.
Kasih karunia ( Grace ) Allah bukan berarti Dia memaklumi dosa kita, tetapi Dia bersedia menanggung rasa sakit akibat dosa kita agar kita bisa dipulihkan. Hari ini, mungkin ada bagian dari hatimu yang sedang menjauh dari Tuhan. Mungkin kamu merasa terlalu malu untuk kembali karena kegagalan yang sama. Dengarlah suara-Nya hari ini: Dia tidak sedang menunggu untuk menghakimimu, Dia sedang menunggu untuk menyembuhkanmu. Pulanglah, karena pelukan-Nya masih terbuka.
5 Pertanyaan Refleksi (Untuk Diskusi Kelompok)
- Tentang Kejujuran: Dalam renungan ini, berhala diartikan sebagai "kekasih lain" yang mencuri perhatian kita dari Tuhan. Apa saja "kekasih lain" (hobi, pekerjaan, ambisi, atau gadget) yang paling sering membuat kita berpaling dari waktu bersama Tuhan?
- Tentang Kesembuhan: Tuhan berjanji untuk "menyembuhkan murtad kita". Apakah kita sering merasa harus "menjadi baik" dulu sebelum berani datang kepada Tuhan? Bagaimana ayat 22 mengubah perspektif ini?
- Tentang Pengampunan: Yeremia 3 menunjukkan Tuhan tetap memanggil pulang meskipun umat-Nya sangat tidak setia. Mengapa sulit bagi kita untuk mempercayai bahwa pengampunan Tuhan selalu tersedia bagi kita?
- Tentang Respons: Ayat 22 ditutup dengan respons: "Inilah kami, kami datang kepada-Mu". Apa satu langkah nyata yang bisa kita lakukan minggu ini sebagai bukti bahwa kita sedang "berjalan pulang" kepada Tuhan?
- Tentang Komunitas: Bagaimana kita sebagai kelompok sel/komunitas bisa membantu anggota yang sedang "tersesat" agar mereka tidak merasa dihakimi, melainkan merasa diajak pulang ke rumah Bapa?
Doa Penutup
Ya Bapa, Sang Pemilik Kasih yang Kekal.
Kami tersungkur menyadari betapa seringnya hati kami berpaling daripada-Mu. Kami mengejar kepuasan duniawi yang sia-sia dan sering melupakan dekapan-Mu yang hangat. Namun, terima kasih karena Engkau tidak pernah menyerah terhadap kami. Terima kasih karena suara-Mu tetap memanggil kami untuk pulang.
Sembuhkanlah hati kami yang sering berpaling ini, ya Tuhan. Cabutlah keinginan kami untuk mencari kebahagiaan di luar Engkau. Biarlah hari ini menjadi hari di mana kami benar-benar "pulang" dan beristirahat dalam kasih karunia-Mu yang ajaib.
Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Jalan Pulang yang sejati, kami berdoa. Amin.
PULANGLAH, AKU MASIH MENUNGGU