KETIKA LANGIT TERBELAH

Bacaan: Yesaya 64

Nats Alkitab: Yesaya 64:1 (TB)

"Ya, sekiranya Engkau mengoyakkan langit dan turun, gunung-gunung pun gemetar di hadapan-Mu!"

Bayangkan sejenak: langit yang tadinya tenang tiba-tiba terbelah. Bukan oleh badai, bukan oleh petir—tapi oleh hadirat Allah sendiri. Itulah kerinduan nabi Yesaya. Ia tidak meminta keajaiban kecil atau pertolongan diam-diam. Ia berseru dengan jiwa yang haus: “Ya, sekiranya Engkau mengoyakkan langit, turun!”

Di tengah dunia yang penuh kehancuran, ketidakadilan, dan dosa, Yesaya tahu hanya satu hal yang bisa mengubah segalanya: kehadiran Allah yang nyata. Bukan sekadar doa yang dijawab dari jauh, tapi Tuhan yang datang—seperti api yang membakar semak, seperti gempa yang mengguncang Sinai, seperti awan kemuliaan yang memenuhi Bait Suci.

Namun, dalam terang Injil, kita tahu: Allah sudah mengoyak langit. Bukan dengan gemuruh yang menakutkan, tetapi dengan kelahiran seorang Bayi di palungan. Di dalam Yesus Kristus, langit benar-benar terbelah—bukan untuk menghukum, tapi untuk menyelamatkan. Ia turun bukan hanya untuk menggoncangkan gunung, tetapi untuk memulihkan hati yang remuk.

Kita mungkin tidak melihat langit terbelah hari ini. Tapi Roh Kudus-Nya hadir—dalam firman, dalam persekutuan, dalam bisikan iman yang lembut namun kuat. Dan suatu hari nanti, langit akan terbelah lagi—bukan untuk pertama kalinya, tapi untuk terakhir kali—ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan penuh.

Sampai saat itu, kita belajar dari Yesaya: merindukan hadirat-Nya lebih dari sekadar jawaban atas doa. Karena di dalam hadirat-Nya, bahkan keheningan pun berbicara, dan kegelapan pun bersinar.

5 Pertanyaan Refleksi untuk Diskusi Kelompok

  1. Pernahkah kamu merasakan kerinduan yang mendalam akan kehadiran Allah—bukan hanya pertolongan-Nya, tapi diri-Nya sendiri? Ceritakan.
  2. Dalam kehidupanmu saat ini, di mana kamu paling butuh “langit terbelah”? Apa yang membuatmu merasa jauh dari hadirat Tuhan?
  3. Bagaimana pemahaman bahwa Yesus adalah “langit yang terbelah” mengubah cara kamu memandang Natal atau karya keselamatan?
  4. Apa artinya “mengalami hadirat Allah” dalam kehidupan sehari-hari—di rumah, di tempat kerja, atau dalam kesendirian?
  5. Jika Allah benar-benar “turun” dalam hidupmu minggu ini, apa yang kamu harapkan Dia ubah—di dalam dirimu, bukan hanya di sekitarmu?

Doa

Ya Bapa yang Mahakudus,
Kami datang dengan hati yang rindu—bukan hanya pada mujizat-Mu, tapi pada wajah-Mu sendiri.
Seperti Yesaya, kami berseru: “Koyakkanlah langit, turunlah, ya Tuhan!”
Tapi ingatkan kami, bahwa Engkau sudah datang dalam Yesus—lembut, penuh kasih, dan penuh kuasa.
Dan Engkau tinggal bersama kami melalui Roh Kudus-Mu.
Buka mata kami untuk melihat hadirat-Mu dalam hal-hal kecil, dalam keheningan, dalam pergumulan.
Ubah kerinduan kami menjadi tempat tinggal-Mu.
Sementara kami menantikan hari ketika langit benar-benar terbelah dan Engkau datang kembali dalam kemuliaan, ajar kami hidup dalam ketaatan, pengharapan, dan kasih.
Dalam nama Yesus, yang telah datang dan akan datang kembali, Amin.


Masuk untuk meninggalkan komentar