Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan... Tahukah kamu alasan pintu rumah itu dibuat tertutup? Seorang teman memberikan uraian berikut di dinding Facebooknya. Ini sebuah pesan simbolis bahwa tidak semua hal layak dilihat oleh orang yang lewat. Kesusahan itu sifatnya personal. Kalau kita umbar terus lama-lama empati orang itu akan luntur. Awalnya orang akan tanya : “Kamu kenapa? Sabar ya.' Lama-lama orang lihat. “Ah, dia lagi. Paling besok juga jualan produk peninggi badan.'
Kesusahan kita itu privasi. Jangan sampai pas kita lagi benar-benar butuh bantuan, orang malah kira itu cuma gimmick buat naikin engagement. Jangan sampai air mata kita kalah berharga dibanding jumlah viewers." "Jadi, simpanlah sedihmu rapat-rapat. Kalau mau cerita, cerita ke teman dekat, ke orang tua, dan ke Tuhan. Jangan ke netizen. Karena netizen itu bukan pemberi solusi, mereka itu cuma penonton yang tunggu part II. Ini pelajaran yang kita dapatkan dari Nabi Habakuk.
Memang belakang ada adagium "No viral no justice". Tetapi itu tidak boleh dijadikan pembenaran bagi kita untuk membangun rumah yang pintunya terbuka 1x24 jam. Kita memang hidup di zaman yang sangat ribut. Hampir setiap hari kita membuka ponsel dan melihat orang-orang mencurahkan isi hati mereka di media sosial. Ada yang curhat soal penderitaan hidup. Ada yang marah terhadap keadaan. Ada yang kecewa terhadap pemimpin, sistem, bahkan terhadap Tuhan. Tidak sedikit pula yang memamerkan keberhasilan, seolah-olah hidupnya tanpa masalah. Media sosial telah menjadi ruang curhat massal, bahkan sering kali menjadi tempat melampiaskan kekecewaan iman. Lalu ke mana seharusnya keluhan itu diarahkan?
Habakuk hidup di zaman yang gelap. Ia melihat kekerasan, penindasan, ketidakadilan hukum, dan rusaknya moral bangsa. Tetapi ada satu hal yang sangat berbeda: Habakuk tidak memposting keluhannya ke ruang publik. Ia membawa keluhannya langsung kepada Allah. Hari ini kita belajar dari Habakuk: bagaimana bersikap ketika hidup terasa tidak adil, ketika doa seolah tidak dijawab, dan ketika cara Tuhan sulit dimengerti.
Tentu kita kenal lagu KJ 417 ayat 1: Serahkan pada Tuhan seluruh jalanmu; kuatirmu semua ditanggungNya penuh. Sedangkan angin lalu dituntun tanganNya, Pun jalan di depanmu, Tuhan mengaturnya.
Nabi Habakuk melakukan ini. Ia membawa semua kegalauan kepada Tuhan. Itu kita baca dai ayat 1–4. Ia masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat Dan mulai berdoa dengan kalimat yang sangat jujur: “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kau dengar?”
Bapak ibu kekasih Tuhan. Ini tentu bukan doa yang sopan, seperti yang sering kita bumbui dengan banyak ungkapan basa basi, supaya kedengaran rapi dan santun. Habakuk berkata apa adanya, mengcurahkan keluhan dari hati yang lelah dan bingung. Ia melihat: kekerasan di mana-mana, penindasan terhadap orang kecil, hukum yang tidak berjalan, orang fasik menginjak orang benar.
Ayat 4 berkata: “Sebab itu hukum menjadi lumpuh dan keadilan tidak pernah muncul.” Saudara-saudari, kalimat ini sangat relevan dengan konteks Indonesia. Kita hidup di negeri yang katanya berlandaskan hukum, tetapi sering kali: hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas orang kecil dikorbankan, yang kuat makin kuat, yang lemah makin terjepit. Habakuk tidak menutup mata terhadap realitas ini.
Tetapi ia melakukan satu hal penting. ia tidak sinis, ia berdoa. Ia tidak berkata, “Sudahlah, Tuhan tidak peduli.” Ia justru berkata, “Tuhan, mengapa Engkau diam?” “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kau dengar?”
Ini bukan iman yang lemah, tetapi iman yang jujur. Faith seeking understanding. Fides Quarem inttelectum. Begitu kata seorang teolog terkemuka abad ke-12, yang menurut para pakar melanjutkan teologi Paulus, Agustinus Dan yang kelak akan dilanjutkan oleh Luther Dan Calvin.
Gereja perlu belajar bahwa Tuhan tidak tersinggung oleh doa yang jujur. Yang berbahaya bukan bertanya, tetapi berhenti berdoa. Lalu menjadikan media sosial sebagai "tembok ratapan" atau sebaiknya sebagai papan reklame: Anak dapat beasiswa LPDP, Lulus ujian KOA's atau suami dilantik jadi CEO, komisaris. Yang dicari adalah jempol like dari nitizen, lalu Tuhan disepelehkan.
Ayat 5-11 menghadirkan jawaban Tuhan yang Mengguncang. Tuhan menjawab doa yang jujur dari Habakuk. Jawaban yang diperoleh sama jujur dengan doa yang dinaikan. Dan itu mengejutkan karena jawabannya tidak seperti yang diharapkan sang Nabi. “Aku sedang melakukan suatu pekerjaan yang tidak akan kamu percayai, jika diceritakan.”
Bacaan Habakuk 1:1-6 menunjukan bahwa Tuhan tidak diam. Ia aktif dan terus bekerja. Masalahnya: cara kerja Tuhan di luar nalar Habakuk. "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, jalan-jalanKu bukanlah jalanmu." Begitu kata Alkitab.
Allah menegaskan bahwa Ia akan memakai bangsa Kasdim (Babel) — bangsa yang kejam, sombong, dan tidak mengenal Tuhan — untuk menghukum Israel. Nabi tentu saja terkejut, juga bingung. Kita biasa memasuki ruang doa dengan keyakinan bahwa jawaban Tuhan mencengangkan jiwa dan memberi kelegaan. "Di waktu bimbang dan gentar jiwa kuaman Dan segar, tenanglah selalu jiwaku pada waktu kuberdoa."
Tetapi jawaban Tuhan kepada Nani justru jungkir balik, jawaban yang mengganggu Iman dan menaikkan spaning. Allah menggunakan bangsa yang kejam, sombong Dan atheist untuk memanggil bangsa yang bertuhan kepada pertobatan.
Saudara-saudari, bukankah sering kali kita juga mengalami hal yang sama? Kita berdoa: agar Tuhan memperbaiki keadaan, agar Tuhan bertindak dengan cara yang kita anggap benar. Tetapi Tuhan justru: mengizinkan situasi makin sulit, memakai orang atau sistem yang tidak kita pahami, membuka jalan yang terasa tidak adil. Allah tidak hanya bergerak garis lurus. Allah juga bergerak secara zig-zag, hampi-hampir seperti cara berjalan seorang manuk. Allah berdaulat, tetapi cara-Nya sering tidak sesuai dengan protab atau SOP kita.
Ini penting untuk konteks Indonesia: Kadang kita bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau izinkan pemimpin yang tidak adil?” “Tuhan, mengapa gereja ditekan?” “Tuhan, mengapa kejahatan seolah menang?”
Jawaban Habakuk mengajarkan satu hal: Tuhan tetap bekerja, meski caranya membuat kita tercengang. Habakuk 1:12–17 menunjukan bahwa Habakuk belum puas. Ia bertanya lagi. “Bukankah Engkau dari dahulu, TUHAN, Allahku, Yang Mahakudus?” Perhatikan ini baik-baik: sebelum Habakuk bertanya, ia menegaskan imannya. Ia tidak berkata, “Tuhan, Engkau salah.” Ia berkata, “Tuhan, Engkau kudus, tetapi aku tidak mengerti.”
Pertanyaan Habakuk sangat tajam: “Mengapa Engkau memakai bangsa yang lebih fasik untuk menghukum bangsa yang lebih benar?” Mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan makin menjadi-jadi Dan keadilan terus diinjak-injak padahal yang didoakan orang percaya adalah kelepasan dan keadilan? Ini pertanyaan-pertanyaan iman yang sangat manusiawi.
Saudara-saudari, iman Kristen bukan iman tanpa pertanyaan. Iman Kristen adalah iman yang tetap tinggal bersama Tuhan, bahkan ketika tidak mengerti. Habakuk tidak lari, menjauh dari Tuhan, meskipun jawaban yang dia terima justru membuat makin bingung. Ia malah makin lebih dekat datang kepada Tuhan.
Sekarang pertanyaannya: Apakah iman yang menyerahkan semua kekuatiran kepada Tuhan membuat kita pasif? Jawabannya: tidak. Jangan mengganti doa dengan curhat digital. Media sosial bukan tempat utama untuk membawa kepahitan iman. Keluhan yang tidak didoakan akan berubah menjadi: sinisme, kepahitan dan kebencian. Sukses atau keberhasilan yang hanya diceritakan di tembok medsos tanpa doa kepada Tuhan di kamar dengan pintu tertutup tidak lebih penonjolan diri alias makan puji.
Habakuk mengajarkan: curahkanlah kepahitanmu kepada Tuhan dalam doa. Ucapkanlah terima kasihmu dalam doa, baru bicara ke manusia atau buat pesta syukur dengan mengundang teman-tema. Gereja dipanggil setia, bukan sekadar reaktif. Gereja tidak boleh: hanya mengeluh, hanya mengutuk kegelapan, hanya sibuk berkomentar. Gereja dipanggil untuk: hidup benar di tengah sistem yang bengkok, menjadi terang lewat integritas, berdiri bagi yang lemah
Percaya memang dibangun atas dasar pengetahuan Dan bukti-bukti empiris. Tetapi tidak semua hal yang berhubungan dengan percaya bisa ditangkap oleh nalar Dan akal sehat. Kita mungkin tidak bisa mengubah sistem besar. Tetapi kita bisa: jujur dalam pekerjaan, adil dalam keputusan kecil, setia dalam panggilan masing-masing. Kedaulatan Allah tidak membatalkan tanggung jawab manusia.
Pasal satu kitab Habakuk mengajarkan kita satu hal, yakni Iman yang Bertahan dalam kesulitan, sekaligus keberanian untuk tetap menjalani hidup kudus dalam lingkungan yang bobrok Dan tidak adil. Para pemimpin Kristen di Indonesia perlu meneladani sikap Iman Habakuk ini.
Habakuk tidak langsung mendapat semua jawaban. Tetapi ia mendapat sesuatu yang lebih penting: Allah yang tetap hadir. Di pasal berikutnya, Habakuk berkata: “Aku mau berdiri di tempat pengintai.” Ini iman yang dewasa: iman yang menunggu, iman yang berjaga, iman yang tetap percaya meski belum mengerti. Kiranya kita belajar dari Habakuk: jangan berhenti berdoa, jangan berhenti berharap, dan jangan berhenti setia.
Amin.
Pdt. Ebenhaezer Nuban Timo
Nota Bene:
Bagi teman-teman yang tergerak untuk membantu pelayanan BPH GEREJA PROTESTAN INDONESIA 2025-2030 bisa memberikan persembahan sukarela seiklasnya berapapun nominalnya ke Q-Ris GPI dalam link berikut: https://drive.google.com/file/d/1q2EXUB5Ln4p-B5mRaW2tE5CcBDjzSK-N/view?usp=drivesdk

KETIKA KELUHAN TIDAK DIPOSTING TETAPI DIPERSEMBAHKAN