Nats Alkitab
"Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air."
— Yeremia 2:13
Duduklah sejenak. Tarik napas perlahan. Bayangkan sebuah padang gurun yang tandus. Di tengah kekeringan itu, ada sebuah mata air jernih yang mengalir terus-menerus—sejuk, menyegarkan, tak pernah kering. Itulah TUHAN: sumber air hidup yang setia memuaskan jiwa yang haus akan kasih, makna, dan kekekalan.
Tetapi lihatlah apa yang dilakukan umat-Nya. Mereka berpaling. Mereka mengambil cangkul, menggali tanah kering dengan susah payah, membuat kolam batu untuk menampung air hujan sesaat. Kolam itu retak. Bocor. Airnya lenyap sebelum sempat membasahi bibir. Mereka menukar yang kekal dengan yang fana. Yang pasti dengan yang rapuh.
Hari ini, kolam bocor itu hadir dalam bentuk lain:
— Pujian manusia yang membuat kita haus akan validasi.
— Kesibukan yang kita kira memberi makna, tapi justru menguras jiwa.
— Harta yang kita kumpulkan, namun tak pernah cukup.
— Relasi yang kita andalkan sebagai pengganti kehadiran-Nya.
Kita bukan umat kuno di Yehuda. Tapi kita sering melakukan hal yang sama: meninggalkan Sumber untuk mengejar saluran. Meninggalkan Pencipta untuk beribadah pada ciptaan. Dan hati kita tetap haus. Karena hanya Dia—Allah yang hidup—yang dapat memuaskan dahaga terdalam jiwa manusia.
Dia tidak marah karena kita haus.
Dia sedih karena kita minum dari tempat yang salah.
Kembali. Datanglah kepada-Nya dengan tangan kosong. Biarkan Dia menjadi sumbermu. Air hidup itu telah dijanjikan dalam Kristus Yesus—yang berkata, "Barangsiapa haus, biarlah ia datang kepada-Ku dan minum" (Yohanes 7:37). Di dalam Dia, tak ada lagi kolam bocor. Hanya aliran kasih karunia yang tak pernah kering.
5 PERTANYAAN REFLEKSI UNTUK DISKUSI KELOMPOK
- Apa "kolam bocor" yang sering saya andalkan untuk memuaskan kehausan jiwa saya akhir-akhir ini—misalnya, media sosial, prestasi, atau persetujuan orang lain?
- Kapan terakhir kali saya menyadari bahwa sesuatu yang saya kejar ternyata tidak memberi kepuasan sejati? Apa yang saya rasakan saat itu?
- Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana saya bisa "berhenti menggali kolam" dan mulai duduk diam di hadirat Sumber Air Hidup?
- Apa bedanya antara menggunakan berkat Tuhan (pekerjaan, keluarga, talenta) dan menyembah berkat itu sebagai pengganti Tuhan?
- Jika hari ini Tuhan berkata, "Aku rindu engkau kembali kepada-Ku sebagai sumber pertamamu," langkah praktis apa yang bisa saya ambil minggu ini?
DOA
Ya Bapa yang penuh kasih,
Ampuni kami yang sering meninggalkan-Mu—sumber air hidup— untuk menggali kolam bocor di padang gurun jiwa kami.
Buka mata hati kami melihat betapa sia-sianya mengejar yang fana.
Padamkan dahaga kami hanya di dalam Kristus, yang adalah air hidup yang mengalir sampai kepada hidup yang kekal.
Ajar kami berhenti menggali, dan mulai duduk diam di hadirat-Mu. Sebab hanya di dalam Engkau, jiwa kami menemukan istirahat sejati.
Dalam nama Yesus, Sang Sumber yang tak pernah kering, kami berdoa.
Amin.
DUA KESALAHAN YANG SAMA-SAMA MERUSAK JIWA