DIAGNOSIS PALSU ATAU PENYEMBUHAN SEJATI?

Bacaan: Yeremia 8
Nats Alkitab Pilihan: Yeremia 8:11 (TB2)

"Mereka mengobati penyakit putri umat-Ku dengan memandangnya ringan, kata mereka: 'Damai sejahtera! Damai sejahtera!', padahal tidak ada damai sejahtera."

Pernahkah Anda pergi ke dokter karena merasa sangat sakit, tetapi sang dokter hanya memberikan plester dan berkata, "Ah, ini tidak apa-apa, kamu sehat-sehat saja"? Anda mungkin akan merasa tenang sejenak, tetapi di dalam tubuh Anda, penyakit itu terus menjalar karena tidak diobati dengan benar.

Itulah yang terjadi dalam Yeremia 8. Bangsa itu sedang "sakit parah" secara rohani. Mereka meninggalkan Tuhan, berbohong, dan lebih suka mengikuti keinginan hati mereka sendiri. Tragisnya, para pemimpin agama saat itu justru memberikan "diagnosis palsu". Mereka berkata semuanya baik-baik saja, seolah-olah Tuhan tidak peduli dengan dosa. Mereka memberikan kedamaian yang semu.

Sebagai orang percaya yang mengerti kedaulatan Allah, kita harus sadar bahwa anugerah tidak pernah murah. Tuhan tidak pernah memandang ringan dosa. Menutupi dosa dengan kutipan ayat atau ritual tanpa pertobatan adalah seperti memasang plester pada kanker. Itu tidak akan menyembuhkan; itu hanya menunda kehancuran.

Hari ini, pertanyaannya adalah: Apakah kita sedang membohongi diri sendiri dengan berkata "semuanya baik-baik saja" padahal hubungan kita dengan Tuhan sedang retak? Apakah kita lebih suka mendengar khotbah yang menyenangkan telinga tetapi tidak mengubah hati?

Tuhan menawarkan penyembuhan, tetapi Dia meminta kita untuk jujur tentang penyakit kita. Jangan cari "damai" yang palsu. Carilah Kristus, Sang Tabib Agung. Hanya di dalam Dia, ada kesembuhan yang sejati dan damai yang bukan sekadar kata-kata.

5 Pertanyaan Refleksi (Untuk Diskusi Kelompok)
  1. Kejujuran: Di bagian hidup mana Anda sering berkata "tidak apa-apa" kepada Tuhan, padahal sebenarnya Anda tahu ada dosa atau ketidaktaatan di sana?
  2. Kenyamanan Palsu: Menurut Anda, mengapa kita lebih suka mendengar kata-kata yang menenangkan (meski bohong) daripada teguran yang menyelamatkan?
  3. Peka Rohani: Ayat 7 menyebutkan burung-burung tahu waktunya untuk migrasi, tetapi umat Tuhan tidak tahu hukum Tuhan. Bagaimana cara Anda menjaga kepekaan terhadap "sinyal" teguran Tuhan dalam kesibukan sehari-hari?
  4. Peran Komunitas: Bagaimana kelompok sel/komsel kita bisa menjadi tempat yang memberikan diagnosis jujur (saling menegur dengan kasih) daripada sekadar memberi "plester" kenyamanan palsu?
  5. Aplikasi: Apa satu langkah nyata minggu ini untuk berhenti "mengobati diri sendiri" secara ringan dan mulai datang dengan hancur hati kepada Tuhan?
Doa Penutup 

Bapa yang Mahatahu, Engkau yang menyelidiki hati kami. Kami mengaku sering kali kami lebih mencintai kedamaian palsu daripada kebenaran yang memerdekakan. Ampunilah kami jika kami sering meremehkan dosa dan menutupi ketidaktaatan kami dengan alasan-alasan rohani. Ya Tuhan, Sang Tabib Agung, singkapkanlah apa yang sakit di dalam jiwa kami dan sembuhkanlah kami dengan kasih karunia-Mu. Biarlah damai yang kami rasakan adalah damai yang sejati dari-Mu. Amin.


Masuk untuk meninggalkan komentar