Nats Alkitab:
1:6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" 1:7 Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." 1:9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 1:10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, 1:11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Hari Kenaikan Yesus Kristus sering dipahami secara sederhana sebagai peristiwa ketika Yesus meninggalkan dunia lalu pergi ke surga yang berada “di atas langit.” Gambaran ini begitu kuat tertanam dalam tradisi gereja sehingga banyak orang membayangkan Yesus terangkat secara fisik menuju suatu tempat jauh di atas sana.
Padahal jika kita membaca Kisah Para Rasul secara lebih mendalam, terutama dalam keseluruhan teologi Lukas, maka istilah “naik ke surga” bukan pertama-tama berbicara tentang perpindahan geografis. Lukas sedang memakai bahasa simbolik dan metaforis untuk menjelaskan transformasi keberadaan Kristus setelah kebangkitan.
Sebelum kebangkitan, Yesus hadir secara terbatas. Ia berada di Galilea, Yerusalem, atau Yudea. Ia terikat ruang dan waktu. Tetapi setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Kristus memasuki realitas baru. Ia tidak lagi terbatas pada satu tempat. Ia menjadi Tuhan bagi seluruh bumi.
Karena itu kenaikan Yesus bukan berarti Yesus pergi meninggalkan dunia. Sebaliknya, kenaikan menegaskan bahwa Kristus kini hadir lebih luas, lebih dalam, dan lebih dekat di seluruh realitas kehidupan manusia.
Dalam tradisi iman Kristen, kenaikan Yesus setidaknya menunjuk pada tiga hal penting.
Pertama, Yesus kembali kepada Bapa untuk mempertanggungjawabkan tugas perutusan-Nya. Ia telah menyelesaikan karya keselamatan melalui salib dan kebangkitan.
Kedua, kenaikan merupakan penegasan kemuliaan Kristus. Ia menerima otoritas dan kemuliaan sebagai Tuhan atas kehidupan.
Ketiga, sebagaimana ditekankan Injil Yohanes, Yesus naik kepada Bapa untuk memohon agar Roh Kudus dicurahkan kepada murid-murid-Nya. Karena itu kenaikan dan Pentakosta sesungguhnya tidak dapat dipisahkan. Kristus yang naik membuka jalan bagi hadirnya Roh Kudus dalam kehidupan gereja.
Saudara-saudari. Pemahaman ini sangat penting karena banyak orang Kristen tanpa sadar membayangkan Yesus sebagai Pribadi yang sudah “pergi” dari dunia. Akibatnya gereja sering merasa bahwa tugasnya adalah membawa Yesus masuk ke dalam dunia yang tidak mengenal-Nya.
Tetapi Kisah Para Rasul justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kristus yang bangkit ternyata sudah lebih dahulu hadir di ujung-ujung bumi sebelum para murid tiba di sana. Perhatikan pengalaman Paulus di jalan menuju Damsyik. Menurut pandangan keagamaan Yahudi saat itu, Yerusalem adalah pusat kehadiran Allah. Damsyik adalah kota asing, kota kafir. Paulus pergi ke sana dengan keyakinan bahwa ia sedang membela Allah dan memburu pengikut Yesus.
Namun justru di jalan menuju kota kafir itu Paulus bertemu Kristus yang bangkit. Ini sangat mengejutkan. Kristus ternyata tidak tinggal diam di Yerusalem. Ia sudah lebih dahulu hadir di Damsyik. Paulus bukan membawa Kristus ke sana. Paulus justru bertobat karena menemukan Kristus yang telah mendahuluinya di tempat yang ia anggap asing dan najis.
Hal yang sama tampak dalam Kisah Para Rasul 15, ketika gereja mula-mula mengadakan sidang sinode pertama di Yerusalem. Persoalannya adalah: apakah orang-orang non-Yahudi dapat diterima tanpa harus menjadi Yahudi terlebih dahulu? Dalam sidang itu Petrus berkata bahwa Roh Kudus juga dicurahkan kepada bangsa-bangsa lain. Artinya, Allah sendiri sudah bekerja di tengah mereka sebelum gereja mengambil keputusan apa pun.
Lalu dalam kisah Cornelius, Petrus kembali dibuat terkejut. Ketika ia tiba di rumah Cornelius, Roh Kudus sudah turun ke atas orang-orang yang dianggap kafir itu. Sekali lagi Lukas ingin menunjukkan: gereja tidak membawa Kristus kepada dunia seolah-olah Kristus belum ada di sana. Kristus yang bangkit sudah lebih dahulu hadir dan bekerja di tengah bangsa-bangsa.
Hal yang sama tampak ketika Paulus berada di Atena. Ia menemukan mezbah bertuliskan: “Kepada Allah yang tidak dikenal.” Paulus tidak mengatakan bahwa orang Atena sama sekali tidak mengenal Allah. Paulus justru memakai kerinduan spiritual mereka sebagai titik masuk pewartaan Injil. Allah ternyata sudah meninggalkan jejak-Nya di tengah budaya dan filsafat mereka.
Saudara-saudari. Di sinilah makna besar kenaikan Yesus ke surga. Kristus tidak meninggalkan bumi. Kristus memasuki seluruh kedalaman kehidupan manusia. Ia hadir dalam budaya-budaya manusia, dalam pencarian spiritual manusia, dalam pergumulan masyarakat, bahkan dalam jeritan penderitaan dunia. Karena itu tugas gereja selama masa Kenaikan Yesus ke surga dan kedatangannya kembali bukan pertama-tama membawa Yesus kepada dunia yang kosong dari kehadiran-Nya. Tugas gereja adalah menemukan jejak Kristus yang sudah lebih dahulu bekerja di ujung-ujung bumi.
Inilah sebabnya Kisah Para Rasul 1:8 berkata: “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Perhatikan istilah yang dipakai. Murid-murid menjadi saksi, yakni orang yang melihat jalannya sebuah peristiwa. Kita justru sering ubah kata saksi dengan memberikan kesaksian. Dengan menggunakan kata menjadi saksi, ayat ini bukan sekadar perintah ekspansi agama. Ini adalah panggilan untuk menemukan karya Kristus dalam seluruh realitas kehidupan manusia.
Saudara-saudari. Apa artinya bagi kita hari ini? Hari ini ujung bumi bukan hanya wilayah geografis. Ujung bumi adalah dunia digital, birokrasi, politik, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan seluruh ruang kehidupan modern. Kristus sudah hadir di sana. Persoalannya: apakah gereja mampu menemukan-Nya?
Hari ini dunia digital dikuasai oleh logika algoritma dan perburuan cuan. Nilai manusia sering diukur berdasarkan jumlah pengikut, jumlah klik, dan keuntungan ekonomi. Banyak orang kehilangan kemanusiaannya karena terjebak dalam budaya digital yang dangkal dan manipulatif. Di media sosial orang lebih mudah menyebarkan kebencian daripada kasih. Hoaks diproduksi demi trafik. Agama dipakai demi popularitas. Bahkan penderitaan manusia dijadikan konten hiburan.
Tetapi Kristus yang naik ke surga juga hadir di dunia digital. Ia hadir melalui kerinduan manusia akan kebenaran, kejujuran, solidaritas, dan makna hidup yang sejati. Karena itu gereja tidak boleh anti terhadap teknologi. Gereja dipanggil menemukan jejak Kristus di sana. Orang Kristen harus memakai teknologi digital untuk menghadirkan nilai-nilai kebangkitan: kejujuran, penghormatan terhadap manusia, pendidikan, solidaritas, dan pembebasan. Jika dunia digital hanya dipakai untuk memperbanyak algoritma dan keuntungan ekonomi tanpa etika, maka manusia akan kehilangan jiwanya.
Saudara-saudari. Hal yang sama berlaku dalam birokrasi dan politik. Banyak orang menganggap politik sebagai wilayah kotor dan jauh dari Allah. Tetapi Kisah Para Rasul justru mengajarkan bahwa Kristus sudah lebih dahulu hadir di ujung bumi, termasuk di ruang-ruang kekuasaan. Artinya birokrasi, tata kelola pemerintahan, dan politik seharusnya menjadi ruang tempat manusia menemukan kasih dan keadilan Allah.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Politik dipenuhi nepotisme. Jabatan dipakai memperkaya diri. Korupsi dianggap biasa. Kekuasaan dipakai menindas rakyat kecil. Birokrasi kehilangan wajah kemanusiaan. Karena itu orang Kristen yang bekerja di sektor pemerintahan dan politik tidak boleh hidup tanpa spiritualitas kenaikan Kristus. Mereka dipanggil menemukan Kristus yang sudah hadir di sana dan menghadirkan tata kelola yang membebaskan manusia. Kristus yang bangkit tidak bekerja untuk menciptakan birokrasi yang menindas, melainkan pemerintahan yang melayani kehidupan.
Saudara-saudari. Kenaikan Kristus juga mempunyai makna ekologis yang sangat penting. Sering kali gereja memahami keselamatan hanya untuk manusia. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa seluruh ciptaan ikut menantikan pembebasan Allah. Kristus yang naik kepada Bapa bukan hanya mempertanggungjawabkan keselamatan manusia. Ia juga bekerja bagi pemulihan seluruh ciptaan: tanah, hutan, sungai, laut, udara, dan binatang-binatang. Karena itu iman Kristen yang tidak peduli terhadap kerusakan lingkungan adalah iman yang egois dan arogan.
Hari ini hutan ditebang demi keuntungan ekonomi. Laut dicemari. Sungai dirusak. Binatang kehilangan habitat. Alam diperlakukan seolah-olah hanya barang dagangan. Tetapi Kristus sudah lebih dahulu hadir di hutan-hutan yang dirusak itu. Ia hadir dalam jeritan bumi yang terluka. Karena itu misi gereja bukan hanya membangun gedung gereja atau memperbanyak anggota jemaat. Gereja dipanggil ikut merawat bumi sebagai rumah bersama ciptaan Allah.
Saudara-saudari. Lalu bagaimana gereja dapat menjalankan tugas sebesar ini? Jawabannya ada dalam janji Yesus: “Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Gereja tidak dapat menemukan jejak Kristus di dunia tanpa Roh Kudus. Roh Kudus menolong gereja melihat bahwa Allah bekerja jauh melampaui batas-batas gereja. Roh Kudus membuka mata gereja untuk menemukan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah budaya manusia, di tengah perjuangan keadilan, di tengah solidaritas kemanusiaan, bahkan di tengah ratapan alam yang rusak.
Karena itu Hari Kenaikan Tuhan bukanlah hari perpisahan antara Kristus dan dunia. Hari Kenaikan adalah deklarasi bahwa Kristus kini memenuhi seluruh ciptaan. Ia hadir di ujung-ujung bumi. Ia bekerja dalam sejarah manusia. Ia berjalan mendahului gereja. Dan tugas gereja adalah mengikuti jejak-Nya. Menghadirkan nilai kebangkitan di dunia digital. Menghadirkan keadilan dalam birokrasi dan politik. Menghadirkan kasih di tengah konflik sosial. Menghadirkan pemulihan bagi bumi yang terluka.
Kiranya Roh Kudus menolong kita menjadi saksi Kristus yang hidup di tengah dunia. Amin.
Nota Bene:
Kristus yang Naik ke Surga dan Hadir di Ujung-Ujung Bumi