Editor

Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita

2 Korintus 5:11–21Pdt. Ebenhaizer Nuban Timo

Shalom, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, 

Kita berkumpul hari ini untuk merayakan Paskah, peristiwa kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Kita masuk dalam satu peristiwa yang menjadi pusat iman Gereja: Kebangkitan Kristus. Paulus berkata di 
1 Korintus 15:14: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu". 

Syukurlah karena pengandaian Paulus justru tidak benar. Kristus benar-benar bangkit. Banyak saksi untuk peristiwa. Bahkan alam juga menunjuk kepada peristiwa itu, seperti yang ada dalam jalan hidup sebutir biji gandum. 

Toh harus kita akui bahwa seringkali kita mengalami semacam “kebingungan Paskah.” Gereja katakan bahwa kebangkitan Kristus adalah the beginning of a new humanity, tetapi kemanusiaan baru itu selalu saja kalah, terpapar tak berdaya berhadapan dengan the old man. Kita dengan gampang memahami salib—penderitaan Kristus, pengorbanan-Nya, penebusan dosa. Tetapi ketika sampai pada kebangkitan, kita sering hanya melihatnya sebagai “penutup cerita,” bukan sebagai kekuatan yang mengubah hidup. Setelah merayakan Paskah, kehidupan kembali berjalan seperti biasa, business as usual, tak ada perubahan. Hal-hal yang lama sama sekali tidak berlalu. 

Padahal justru di dalam kebangkitan itulah Allah menyatakan sesuatu yang baru: pembaruan total atas kemanusiaan kita. Kebangkitan Kristus menegaskan bahwa kehidupan sekedar sebuah repetisi, tetapi re-creation. Rasul Paulus katakan itu dalam 2 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 

Ibu dan bapak, kakak dan adik, saudara-saudaraku laki-laki dan perempuan. Sementara saya menyampaikan khotbah ini, sesuatu yang baru sedang terjadi di dalam kamu. Kalian bukan lagi manusia lama. Kalian sudah dibaharui oleh Allah melalui Roh Kudus karena Kristus benar-benar bangkit. 

Kamu tidak sekadar mengalami perubahan moral kecil. Paskah bukan sekadar ajakan untuk menjadi lebih baik. Paskah adalah sebuah kekuatan, energi yang menghadirkan ciptaan baru. Kebangkitan Kristus bukan hanya membuktikan bahwa Yesus benar. Kebangkitan adalah tindakan Allah yang menciptakan manusia baru—manusia yang hidup dalam relasi yang dipulihkan dengan Allah.

Dalam terang ini, kita harus mengoreksi cara kita memandang iman. Jika kita hanya berhenti pada salib, kita hanya berbicara tentang pengampunan dosa. Maka sesudah ini kita bikin lagi dosa, karena bakal ada pengampunan. Jadi kita tidak boleh berhenti pada salib. Kita perlu masuk ke dalam kebangkitan, kita berbicara tentang hidup baru. Sehabis ibadah ini, dalam perjalanan pulang dan tiba di rumah, lalu saat kembali ke tempat kerja usai liburan Paskah kalian harus menampilkan kehidupan yang baru itu di tempat kerja.

Semua ini untuk memberitakan kepada dunia bahwa kekristenan bukan hanya agama pengampunan. Tetapi yang lebih penting Kekristenan adalah agama pembaruan hidup. Pengampunan ada dalam semua agama, termasuk dalam agama lokal. Pengampunan diberikan dalam ritual dan kultus. Hanya kekristenan saja yang menunjukan sesuatu yang baru, nilai plus, yakni kehidupan yang baru, cara pandang baru, sikap hidup yang baru terhadap kenyataan hidup yang ada di sekitar kita. Kalau saya berikan contoh, khotbah akan terlalu panjang dan kalian justru akan kembali ke manusia lama. 

Kemanusiaan baru kita dibangun di atas fondasi yang kuat. Paulus katakan itu dalam ayat 14. “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati". 

Kasih Kristus adalah dasar kemanusiaan baru. Bukan hukum atau hukuman. Bukan ancaman atau ketakutan. Bukan keuntungan pribadi atau kepentingan. Tetapi kasih. Kita tidak berperilaku baru karena takut dihukum atau supaya dapat sorga sebagai upah. Tidak! Kita hidup sebagai manusia baru karena mengasihi Kristus yang sudah lebih dahulu mengasihi kita. 

Menjadi manusia baru artinya tinggalkan cara hidup lama yang diwarnai oleh egoisme: ingin menang sendiri, mengejar kekuasaan, memanfaatkan orang lain, menghalalkan segala cara. Semua itu sekarang kita lihat sebagai kerugian. Memang ada untungnya mengajar kekuasaan atau menghalalkan segala cara, tetapi tidak bertahan, akan berubah jadi celaka jika terjadi perubahan konstelasi politik.  

Ini yang sedang terjadi belakang ini dalam negara dan bangsa. Poli Krisis yang sedang berlangsung, bangkrutnya kejujuran, terbaliknya keadilan matinya hati nurani terjadi akibat sikap hidup manusia lama: ingin menang sendiri, mengejar kekuasaan, memanfaatkan orang lain, menghalalkan segala cara.

Dalam situasi ini kekuasaan tidak lagi dilihat sebagai panggilan pelayanan, tetapi sebagai sarana memperkaya diri. Kejujuran digantikan oleh manipulasi. Kebenaran dikorbankan demi kepentingan.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari peristiwa Paskah untuk mengobati kemerosotan yang sedang terjadi? Kalau Paulus kita jadikan sebagai pijakan, jawabannya jelas: Kebangkitan Kristus menghadirkan manusia baru yang digerakkan oleh kasih, bukan oleh kepentingan diri.

Paulus tegaskan itu dalam ayat 15: “Supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”

Ciri utama manusia baru adalah tidak lagi hidup untuk diri sendiri. “Lain dulu, lain sekarang, kini kuhidup di dalam Tuhan, yang penuh damai Dan penuh Sentosa kumerasakan…”

Bayangkan jika prinsip ini sungguh-sungguh jadikan panduan. Kita hidup di dalam Tuhan, makan pemimpin tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, pejabat tidak lagi bekerja untuk memperkaya sendiri dan mempertahankan kedudukan, Gereja juga tidak lagi hanya memikirkan surga san abai terhadap pembaruan sosial.

Betapa akan sangat berbeda wajah bangsa ini! Masalah terbesar kita hari ini bukan kekurangan orang pintar. Bukan kekurangan sumber daya. Tetapi kelebihan orang yang hidup untuk dirinya sendiri. Di titik ini Injil Paskah menjadi sangat relevan. Kebangkitan Kristus memanggil kita keluar dari egoisme menuju kehidupan yang berpusat pada Kristus.

Ciri kedua dari manusia baru adalah cara pandang baru terhadap sesama.
Paulus berkata dalam ayat 16: “Kami tidak lagi menilai seorang pun menurut ukuran manusia.

Kemanusiaan baru berarti juga cara pandang baru. Kita tidak lagi melihat orang berdasarkan: suku, agama, status sosial, kekayaan, jabatan. Tetapi kita melihat setiap orang sebagai pribadi yang dikasihi Allah.

Dalam konteks Indonesia, ini sangat penting. Kita masih sering terjebak dalam: politik identitas, diskriminasi, prasangka sosial. Kebangkitan Kristus memanggil gereja untuk menjadi komunitas yang melihat manusia dengan cara Allah melihat mereka. Artinya, gereja harus menjadi ruang penerimaan, komunitas penyembuh, agen rekonsiliasi dan promotor kesetaraan.

Untuk mewujudkan goal ini kebangkitan Kristus perlu juga dipakai sebagai titik tolak misiologi. Gereja tidak boleh berhenti pada perayaan Paskah, tetapi berkelanjutan dengan penugasan Paskah. Di ayat 18–19 Paulus berkata: “Allah telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.”

Paulus tidak hanya berbicara tentang tugas pendeta. Tidak juga sekedar untuk Majelis jemaat. Paulus menggunakan diksi “kami”— seluruh orang percaya. Kita adalah duta-duta Kristus (ayat 20).

Ini berarti gereja tidak boleh hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Gereja dipanggil keluar, masuk ke dalam dunia, untuk membawa pendamaian. Dalam konteks poli krisis moral saat ini, pelayanan pendamaian itu bisa berbentuk:

Pertama, menjadi suara kenabian. Gereja harus berani mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kasih dan keberanian.

Kedua, memberi teladan hidup. Tidak cukup berkhotbah tentang kejujuran—gereja harus menjadi komunitas yang jujur. Tidak cukup berbicara tentang keadilan—gereja harus mempraktekkan keadilan.

Ketiga, membangun budaya integritas. Mulai dari hal kecil seperti tidak korupsi waktu, tidak manipulasi laporan, tidak menyalahgunakan kepercayaan. Pembaharuan bangsa dimulai dari pembaharuan manusia—dan itu dimulai dari gereja.

Saudara-saudari yang terkasih. Paskah bukan hanya perayaan kemenangan Kristus atas maut. Paskah adalah awal dari kemanusiaan yang baru. Di tengah bangsa yang sedang mengalami krisis moral, Tuhan tidak hanya mengeluh. Tuhan tidak hanya menghakimi. Tuhan membangkitkan manusia baru—yaitu kita.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita mau hidup sebagai manusia baru itu? Apakah kita mau membiarkan kebangkitan Kristus benar-benar mengubah cara kita berpikir, bertindak, dan hidup?

Percayalah! Dari gereja yang kecil sekalipun, dari orang percaya yang sederhana sekalipun, Allah bisa memulai pembaruan besar bagi bangsa ini. Kristus telah bangkit. Dalam Dia, kemanusiaan kita dibarui. Amin.

Nota Bene:
Bagi teman-teman yang tergerak untuk membantu pelayanan BPH GEREJA PROTESTAN INDONESIA 2025-2030 bisa memberikan persembahan sukarela seiklasnya berapapun nominalnya ke Q-Ris GPI pada link berikut: