Editor

KHOTBAH GEREJA SEDIA

Tema: Menghayati Penderitaan Kristus dengan Hati yang Layak dan Penuh Syukur Bacaan: 1 Korintus 11:23–34Oleh: Pdt. Ebenhaizer Nuban Timo

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,


Kita berkumpul sore ini dalam suasana yang hening, penuh perenungan, dan sekaligus penuh harap. Kita melakukan apa yang dalam tradisi Gereja Protestan Timor disebut Gereja Sedia, di Sumba disebut Sensora Morum. Kita memeriksa kelayakan hati kita sebelum duduk semeja dengan Tuhan, menyantap makanan surgawi, tubuh dan darah Kristus dalam wujud roti Dan anggur.


Ibadah Gereja Sedia bukan sekadar sebuah rutinitas liturgis menjelang Perjamuan Kudus pada Jumat Agung. Ini adalah momen di mana kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu masuk ke dalam ruang batin yang paling dalam—ruang di mana kita berjumpa dengan Kristus yang menderita, mati, dan bangkit bagi kita.


Rasul Paulus dalam 1 Korintus 11:23–34 menyampaikan sesuatu yang sangat mendasar tentang Perjamuan Kudus. Ia tidak hanya berbicara tentang tata cara, tentang ukuran roti dan volume anggur yang akan diterima dan disantap serentak. Paulus berbicara tentang makna terdalam dari tindakan makan roti dan minum dari cawan. Paulus menunjukkan bahwa Perjamuan Kudus memiliki dua karakter utama: Peringatan dan Solidaritas.


Tentang karakter pertama, yakni Mengingat dan Memberitakan kematian Kristus sampai dia datang kembali. Paulus katakan itu di ayat 26, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” (ayat 26).


Perjamuan Kudus adalah tindakan mengingat. Tetapi mengingat di sini bukan sekadar aktivitas mental—bukan hanya mengenang seperti kita mengenang sebuah peristiwa masa lalu. Dalam iman Kristen, mengingat berarti menghadirkan kembali makna dari peristiwa itu dalam kehidupan kita sekarang.


Ketika kita makan roti, kita mengingat tubuh Kristus yang dipecah-pecahkan. Ketika kita minum dari cawan, kita mengingat darah-Nya yang dicurahkan. Kita masuk ke dalam misteri penderitaan itu. Kita tidak berdiri sebagai penonton, tetapi sebagai peserta.


Jadi mengingat penderitaan Kristus berarti kita menyadari bahwa kita memberikan persetujuan batin bahwa Yesus menderita untuk keselamatan kita. Dia mati menggantikan kita. Artinya kita yang seharusnya mati, boleh terus hidup, bahkan sampai hidup yang kekal karena Kristus mati menjadi pengganti kita. Kematiannya membuka jalan hidup bagi kita. Itu satu poin.


Tetapi merayakan Perjamuan Kudus tidak hanya bermakna meningatt. Paulus juga menegaskan tentang memberitakan kematian Kristus. Jadi Perjamuan Kudus bukan hanya mengarah ke dalam (refleksi pribadi), tetapi juga ke luar (kesaksian iman). Artinya, setiap kali kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, kita sedang berkata kepada dunia: “Kristus telah mati, Kristus telah bangkit, dan Kristus akan datang kembali.”


Mengenai karakter kedua, yakni Perjamuan sebagai Solidaritas. Paulus menegur jemaat Korintus karena mereka gagal memahami makna Perjamuan Kudus sebagai solidaritas. Bayangkan mereka mengaku sebagai anggota-anggota dari satu tubuh, tetapi tidak hidup dalam semangat setia kawan. kalau mereka bertemu dalam pesta, ada yang makan lebih duluan, makan sampai kenyang, menghabiskan menu yang ada. Tidak ada sikap peduli terhadap yang datang belakangan. Tidak ada rasa iba bila melihat saudara lainnya lapar karena kehabisan konsumsi.


Karena itu Paulus berkata: “Jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.” (ayat 33). Kita melihat bahwa Perjamuan Kudus adalah tindakan menunggu satu sama lain, tindakan mengakui bahwa kita adalah satu tubuh, bertolong-tolongan, hidup dalam semangat saling berbagi.


Nilai ini juga yang dipraktekkan secara simbolis dalam Perjamuan Kudus. Bayangkan simbol yang sangat kuat ini. Setiap orang menerima roti dengan ukuran besar yang sama. Juga anggur yang kita peroleh sama volumenya. Kita tidak langsung makan atau minum waktu menerima roti dan anggur. Kita menunggu komando, lalu bertindak serentak.


Kita makan dari roti yang sama, Kita minum dari cawan yang satu. Kita melakukannya bersama-sama. Ini bukan hanya simbol persaudaraan. Ini adalah janji solidaritas, kesediaan untuk berbela rasa. 


Artinya: Tidak ada satupun dari kita yang berjalan sendiri dalam iman. Tidak ada satu pun yang tega membiarkan saudaranya menderita dan larut dalam kesulitan hidup. Tidak boleh ada yang diabaikan dalam pergumulan hidupnya. Satu anggota menderita anggota lainnya ikut menangis. Sakit di Kuku Rasa di Daging begitu peribahasa orang Maluku.


Menghayati Perjamuan Kudus dengan hati yang layak berarti kita tidak hanya berdamai dengan Tuhan, tetapi juga membangun relasi yang benar dengan sesama. Paulus juga memberi peringatan yang serius: Barangsiapa makan dan minum dengan cara yang tidak layak, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.


Apa artinya “tidak layak”? Bukan berarti kita harus sempurna. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Tetapi yang dimaksud Paulus adalah datang ke Perjamuan Kudus tanpa komitmen pertobatan, atau datang hanya untuk disebut saleh. Ada juga orang yang datang ke Perjamuan Kudus karena kebiasaan menjelang Jumat Agung. Itu artinya dia datang tanpa kesadaran akan tubuh Kristus, tanpa kepedulian terhadap sesama. Usai Perjamuan Kudus Jumat Agung dia jadi manusia yang cuek terhadap sesama yang kesulitan. Dia malah ikut mempersulit kehidupan sesama.


Saudara-saudaraku dalam Kristus. Paulus bicara tentang Dua karakter Perjamuan Kudus, yakni perbuatan mengingat penderitaan Kristus dan mengembangkan sikap solidaritas sosial untuk menegaskan bahwa kehidupan Kristen yang berbobot adalah kehidupan yang Imitatio Christi: Meneladani Kristus dalam Kehidupan Nyata.


Maksudnya, Gereja Sedia dan perayaan Perjamuan Kudus tidak berhenti setelah kita selesai makan roti dan minum anggur bersama. Makan dan minum bersama dalam arti yang luas harus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari, yakni mengembangkan sikap hidup bertolong-tolongan. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, ita hatori esa, nekaf Mese ansaok Mese, taramiti tominuku.


Menghayati penderitaan Kristus berarti kita dipanggil untuk menjalani imitatio Christi—meneladani Kristus. Dua poin utama yang ditekankan Paulus tadi menjadi sangat konkret:


Pertama,  Mengingat Penderitaan Kristus berarti Hidup yang Berubah kebaikan bagi sesama. Bagaimana kita mengingat penderitaan Kristus secara konkret? Jawabannya adalah membangun disiplin rohani harian. Perlu sekali setiap hari kita mengambil waktu untuk berdoa dan membaca Firman, mengingat kasih Kristus yang telah berkorban bagi kita.


Kedua, Mengendalikan diri dari dosa yang lama. Jika Kristus telah mati untuk dosa kita, maka kita tidak lagi hidup dalam dosa itu. Menghentikan kebiasaan berkata kasar. Menghindari konflik yang tidak perlu. Hidup jujur dalam pekerjaan. Ketika menghadapi kesulitan, kita tidak langsung mengeluh, tetapi belajar berkata:

“Tuhan, aku mau memikul salibku dan mengikuti Engkau.”


Ketiga, Membangun Solidaritas artinya mengasihi sesama secara nyata dalam perbuatan, bukan sekedar dalam kata-kata, apalagi sekedar kirim gambar hati melalui Whatsapp. Bagaimana kita mewujudkan solidaritas setelah Perjamuan Kudus?


Jawabannya juga sederhana. Peka terhadap mereka yang berkekurangan

Jangan tunggu program gereja. Mulailah dari sekitar kita. Kalau saudaramu berada dalam kesulitan ekonomi, bantulah dia. Tentu bukan dengan memberikan ikan bagi yang lapar. Kalau hanya dilakukan sesekali bolehlah. Bantuan seperti itu tidak mendidik. Setelah beri ikan, berikan juga kail supaya dia sendiri menangkap ikan.


Membangun sikap solidaritas juga berarti membangun bela rasa yang inklusif. Jangan biarkan ada sesama yang merasa sendirian di dalam jemaat. Banyaknya kasus bunuh diri belakang ini adalah karena sikap cuek yang makin menguasai hidup bermasyarakat kita. Kita semakin jarang berkunjung, semakin sulit mendengar orang lain, semakin curiga terhadap mereka yang berbeda.


Gaya hidup seperti ini bertolak belakang dengan panggilan Kristen untuk Menjadi garam dan terang di tengah dunia, Di tempat kerja, di lingkungan masyarakat,  menjadi orang yang jujur, hadir sebagai pendamai, bukan penghasut, menjadi pembawa harapan, bukan memperbesar ketakutan dan ancaman


Saudara-saudari yang terkasih. Sebentar lagi kita akan masuk ke dalam Perjamuan Kudus. Kita akan makan roti dan minum dari cawan. Dalam Ibadah ini baiklah kita ingat secara sungguh-sungguh bahwa makan roti dan minum anggur bersama dalam Perjamuan Kudus bukan tujuan kehidupan kristen. Itu adalah awal, latihan atau lebih baik warming up.


Makan dan minum bersama di Perjamuan Kudus adalah latihan untuk hidup yang terus mengingat penderitaan Kristus, terus memberitakan kasih-Nya, terus membangun solidaritas dengan sesama. Mari kita menerima undangan Tuhan, berkumpul di meja Perjamuan Kudus dengan hati yang layak, hati yang bertobat, hati yang penuh kelembutan bagi sesama, dan hati yang penuh syukur.


Baiklah kita juga kita berjanji dalam hati kita masing-masing bahwa setelah kita bangkit dari meja Perjamuan, kita akan hidup sebagai murid-murid Kristus yang sejati—menjadi garam dan terang di tengah dunia.


Paulus berkata: “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Tuhan menolong kita. Amin.


Nota Bene:

Bagi teman-teman yang tergerak untuk membantu pelayanan BPH GEREJA PROTESTAN INDONESIA 2025-2030 bisa memberikan persembahan sukarela seiklasnya berapapun nominalnya ke Q-Ris GPI pada link berikut: