Skip to Content

Siapa Menentukan Arah Rumah Kita?

Ketika banyak hal ingin menjadi pusat kehidupan, keluarga dipanggil kembali menaruh Tuhan di tempat yang terutama.
31 Agustus 2026 by
Siapa Menentukan Arah Rumah Kita?
Editor
| No comments yet
Renungan Keluarga 5 menit membaca
Ayat Pilihan — Yeremia 10:23

“Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.”

Yeremia 10 memperlihatkan sebuah kontras yang tajam. Manusia membuat sesuatu dengan tangannya sendiri, menghiasinya, lalu perlahan memperlakukannya seolah-olah benda itu memiliki kuasa atas hidup mereka. Berhala pada zaman Yeremia mudah dikenali. Bentuknya terlihat. Tetapi berhala dalam keluarga hari ini sering jauh lebih halus.

Uang bisa menjadi berhala. Karier juga bisa. Prestasi anak, rumah yang nyaman, jabatan, media sosial, bahkan keinginan untuk terlihat sebagai “keluarga yang berhasil” di mata orang lain dapat perlahan mengambil tempat yang seharusnya hanya diberikan kepada Tuhan. Tidak selalu karena semua itu jahat. Justru masalahnya muncul ketika sesuatu yang sebenarnya baik mulai menentukan harga diri kita, keputusan kita, suasana rumah kita, dan akhirnya arah hidup kita.

Kadang kita berkata bahwa Tuhan adalah pusat keluarga, tetapi keputusan sehari-hari menceritakan sesuatu yang berbeda. Kita mempunyai waktu untuk pekerjaan, gadget, hiburan, perjalanan, dan berbagai urusan, tetapi sulit menemukan beberapa menit untuk duduk bersama, berdoa, membaca Firman, atau benar-benar mendengarkan isi hati satu sama lain. Rumah tetap berjalan. Tetapi mungkin tanpa sadar Tuhan hanya menjadi tamu.

Yeremia mengingatkan kita akan sesuatu yang sederhana: kita tidak sanggup menentukan seluruh jalan hidup kita sendiri. Kita bisa membuat rencana. Kita harus bekerja keras. Kita boleh mempunyai cita-cita besar. Tetapi tidak seorang pun mengetahui hari esok sepenuhnya.

Karena itu, keluarga Kristen bukanlah keluarga yang memiliki semua jawaban. Keluarga Kristen adalah keluarga yang belajar bertanya bersama, “Tuhan, ke mana Engkau ingin membawa keluarga kami?”

Mungkin malam ini kita tidak perlu memulai dengan sesuatu yang rumit. Matikan televisi sebentar. Letakkan telepon genggam. Duduk bersama.

Lalu tanyakan dengan jujur: Apa yang akhir-akhir ini paling menguasai hati keluarga kita?

Jika jawabannya bukan Tuhan, kita selalu dapat kembali. Kasih karunia-Nya masih terbuka. Dan ketika Tuhan kembali menjadi pusat, bukan berarti semua persoalan keluarga langsung hilang; tetapi kita tidak lagi berjalan sendirian, karena langkah demi langkah kita belajar menyerahkan arah rumah kita kepada Dia yang mengetahui jalan jauh lebih baik daripada kita.

Pertanyaan Diskusi Keluarga

  1. Menurut kita, apa saja “berhala modern” yang paling mudah mengambil tempat Tuhan dalam kehidupan keluarga masa kini?
  2. Dalam beberapa minggu terakhir, hal apa yang paling banyak menyita perhatian, waktu, dan energi keluarga kita?
  3. Apakah ada keputusan keluarga yang sedang kita hadapi tetapi selama ini lebih banyak kita pikirkan sendiri daripada kita doakan bersama?
  4. Kebiasaan apa yang perlu kita kurangi supaya keluarga mempunyai lebih banyak ruang untuk Tuhan dan satu sama lain?
  5. Satu perubahan sederhana apa yang dapat kita mulai minggu ini untuk menunjukkan bahwa Tuhan benar-benar menjadi pusat keluarga kita?

Doa Penutup

Tuhan, kami mengaku bahwa begitu mudah hati kami terpikat oleh banyak hal. Pekerjaan, uang, keberhasilan, kenyamanan, bahkan kesibukan kami sendiri sering mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik-Mu.

Ampuni kami ketika kami mengatakan Engkau pusat keluarga kami, tetapi menjalani hidup seolah-olah kami sanggup menentukan semuanya sendiri.

Ajarlah kami mencari kehendak-Mu sebelum mengambil keputusan. Berikan kepada kami hati yang mau mendengar, kerendahan hati untuk dikoreksi, dan keberanian untuk meninggalkan apa pun yang mulai menggantikan posisi-Mu dalam hidup kami.

Pimpin rumah kami, Tuhan. Pimpin orang tua, anak-anak, pekerjaan kami, rencana kami, dan masa depan kami.

Biarlah rumah ini menjadi tempat di mana nama-Mu dihormati, kasih-Mu dirasakan, dan kehendak-Mu dicari bersama.

Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Sign in to leave a comment
Yang Paling Berharga di Rumah Kita
Ketika keluarga berhenti membanggakan apa yang dimiliki dan mulai belajar mengenal Tuhan lebih dalam