Yeremia 9:23-24 (TB)
Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah ia bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN."
Ruang keluarga itu hening. Padahal ada empat orang di sana. Ayah, ibu, dan dua anak remaja yang sibuk menunduk menatap layar bercahaya dalam genggaman masing-masing, terseret arus informasi tanpa henti dari dunia maya sementara orang-orang yang paling penting dalam hidup mereka hanya berjarak satu meter tanpa disapa. Kita membanggakan nilai rapor anak-anak. Kita memamerkan foto liburan di media sosial. Kita merayakan promosi jabatan. Tapi jujur saja. Apakah kita benar-benar saling mengenal sampai ke kedalaman jiwa? Seringkali tidak.
Nabi Yeremia menangis dengan sangat pedih. Ia bukan menangis karena kelaparan atau karena kemiskinan materi yang melanda negerinya. Hatinya hancur berkeping-keping karena ia melihat sebuah bangsa yang telah kehilangan esensi kebenaran, di mana kebohongan menjadi bahasa sehari-hari dan bahkan saudara kandung sendiri tidak bisa lagi dipercaya. Mirip dengan kita. Keluarga Kristen modern di Indonesia hari ini kerap kali terperangkap hidup dalam ilusi kesempurnaan yang melelahkan. Sibuk memoles citra. Menjaga gengsi. Padahal di dalam, fondasi rumah tangga kita rapuh. Sangat rapuh. Kita mengejar apa yang fana, dan mengorbankan apa yang baka.
Lalu Tuhan berfirman dengan keras dan telanjang. Jangan banggakan hikmatmu. Jangan pamerkan kekuatanmu. Apalagi kekayaanmu. Semuanya ilusi. Semuanya bisa menguap dalam semalam hanya karena satu krisis ekonomi atau satu vonis penyakit dari dokter. Yang berharga hanyalah satu hal. Memahami dan mengenal Dia. Di sinilah letak revolusi keluarga Kristen sejati harus dimulai. Ketika meja makan kita tidak lagi menjadi arena pameran prestasi atau tempat penghakiman atas kegagalan, melainkan berubah menjadi altar pengakuan akan kelemahan dan ketergantungan penuh pada anugerah Kristus.
Berhentilah sejenak malam ini. Pandanglah pasangan Anda. Tataplah mata anak-anak Anda lekat-lekat. Kenalilah mereka bukan dari deretan angka di kertas ujian atau besarnya gaji mereka kelak, melainkan sebagai jiwa kekal yang sangat membutuhkan pengenalan akan Tuhan. Mulailah dari diri sendiri. Hancurkan berhala kebanggaan palsu itu. Berlututlah. Banggalah hanya karena satu hal: bahwa di tengah segala kelemahan kita, kita memiliki Tuhan yang kasih setia-Nya tidak pernah gagal.
5 Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel / Keluarga
Apa bentuk "kebijaksanaan, kekuatan, atau kekayaan" (pencapaian duniawi) yang diam-diam paling sering menjadi sumber kebanggaan utama dalam keluarga atau diri kita?
Yeremia menegur bangsa yang hidup dalam kepalsuan. Mengapa kejujuran dan sikap rentan (vulnerability) seringkali sangat menakutkan untuk dipraktikkan di antara anggota keluarga sendiri?
Bagaimana kita bisa secara praktis menggeser fokus percakapan sehari-hari di rumah, dari sekadar membahas "kesuksesan materi/akademik" menjadi percakapan tentang "mengenal Tuhan"?
Ceritakan satu momen di mana Anda menyadari bahwa segala kebanggaan duniawi yang Anda kejar ternyata tidak bisa memberikan kedamaian yang sejati.
Langkah nyata apa yang akan keluarga atau kelompok sel kita ambil minggu ini untuk membangun budaya "bermegah hanya karena mengenal Tuhan"?
Doa Penutup
Tuhan yang Maha Rahim, ampuni kami. Kami sering kali salah fokus. Kami mengedepankan gengsi, dan melupakan esensi. Hari ini kami menyadari betapa melelahkannya hidup di balik topeng kesempurnaan. Ajari kami, ya Roh Kudus, untuk menjadikan pengenalan akan Engkau sebagai satu-satunya harta berharga di rumah kami. Pulihkan komunikasi kami yang terputus. Hancurkan kepalsuan. Jadikan rumah kami tempat di mana kebenaran-Mu bertumbuh subur dan kasih-Mu dirasakan secara nyata. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa dan berserah. Amin.