Bacaan Firman Tuhan:
"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN..." (Yeremia 7:3-4)
Gereja penuh. Bangku-bangku terisi sesak. Alunan musik mengalun, tangan-tangan terangkat tinggi, dan suara doa menggema memecah keheningan ibadah Minggu yang syahdu. Indah sekali. Tapi, mari kita jujur sejenak. Apa yang sesungguhnya terjadi ketika lagu pujian itu berhenti dan pintu rumah kita tertutup rapat dari pandangan jemaat yang lain?

Yeremia berdiri di gerbang Bait Suci ribuan tahun lalu. Ia meneriakkan sebuah kebenaran tajam yang sangat tidak nyaman untuk didengar oleh mereka yang merasa aman hanya karena rajin beragama. Ia menatap tajam wajah orang-orang yang merasa hidupnya beres hanya karena mereka berada di dalam gedung agama. "Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan!" Seruan itu bergema keras. Mengiris kesombongan rohani mereka. Sama seperti kesombongan kita hari ini. Tuhan tidak bisa disuap dengan persembahan atau aktivitas pelayanan kita jika tangan yang sama kita gunakan untuk menyakiti keluarga kita sendiri.

Keluarga Kristen di Indonesia saat ini seringkali terjebak dalam jebakan rohani yang sama persis. Kita memakai seragam pelayanan yang rapi. Kita mengunggah foto-foto kebersamaan sehabis kebaktian di media sosial dengan senyum paling manis yang bisa kita rekayasa di depan kamera. Nol besar. Di meja makan, keheningan yang dingin justru membeku di antara suami dan istri yang tidak lagi saling bicara dari hati ke hati. Anak-anak merasa asing dengan orang tua mereka sendiri. Mereka mencari pelarian di layar ponsel, mengais sedikit perhatian dari dunia maya yang fana, karena mereka sama sekali tidak menemukan wujud nyata dari kasih Kristus di dalam rumah mereka sendiri.
Tuhan tidak butuh rutinitas agamawi kita. Tidak sama sekali. Ia menginginkan hati kita yang hancur dan bertobat. Ia merindukan keadilan, kesabaran, dan kasih sayang yang memancar nyata dari ruang keluarga kita, bukan sekadar kata-kata manis yang meluncur fasih dari atas mimbar gereja. Jika kita rajin beribadah tapi masih menyimpan amarah pada pasangan, memaki anak-anak dengan kata-kata kasar, atau memanipulasi orang lain demi kelancaran bisnis kita, maka Bait Suci hati kita sebenarnya telah berubah wujud menjadi sarang penyamun.

Berubahlah. Sekarang. Benahilah tingkah laku kita hari ini juga. Bawalah Tuhan pulang ke rumah Anda.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel (Sel/Komsel)
Apa tanda-tanda atau peringatan dini (red flags) ketika kita mulai menjadikan ibadah dan pelayanan hanya sebagai rutinitas agamawi belaka?
Mari kita jujur pada diri sendiri: Dalam area apa sikap Anda seringkali sangat berbeda saat berada di gereja dibandingkan saat menghadapi konflik di rumah?
Nabi Yeremia menegur bangsa Israel karena tidak mempraktikkan keadilan dan kasih. Bagaimana kita bisa mempraktikkan "keadilan dan kebenaran" secara nyata kepada pasangan atau anak-anak kita?
Mengapa lebih mudah bagi kita untuk mengasihi orang di gereja (yang hanya kita temui beberapa jam) dibandingkan mengasihi anggota keluarga kita sendiri?
Apa satu langkah praktis yang komitmennya akan Anda buat minggu ini untuk memastikan bahwa rumah Anda benar-benar menjadi "Bait Tuhan" tempat Ia berdiam?
Doa Penutup
Bapa di dalam Surga, ampuni kami. Kami seringkali begitu sibuk membangun citra rohani di luar sana, namun membiarkan keluarga kami sendiri hancur tanpa kasih. Kami mengaku, seringkali rumah kami bukan menjadi Bait-Mu, melainkan tempat di mana amarah dan ego kami bertahta. Tuhan, jamah hati kami hari ini. Ubahkan kami dari dalam. Tolong kami untuk tidak hanya menjadi jemaat yang baik di gereja, tetapi menjadi suami, istri, ayah, ibu, dan anak yang memancarkan karakter Kristus di balik pintu rumah kami. Biarlah pengampunan, kelemahlembutan, dan damai sejahtera kembali memenuhi meja makan dan ruang keluarga kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Keluarga kami yang sejati, kami berdoa dan berserah. Amin.