Langsung ke Konten

Saat Aku Bilang, “Tidak Apa-Apa,” Padahal Belum

5 November 2026 oleh
Saat Aku Bilang, “Tidak Apa-Apa,” Padahal Belum
Editor
| Belum ada komentar
Renungan Remaja • 3 menit membaca

Saat Aku Bilang, “Tidak Apa-Apa,” Padahal Belum

Berani jujur pada diri sendiri di hadapan Tuhan

Ayat Alkitab Pilihan

“Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu membohongi dirimu sendiri dengan mengatakan: Orang-orang Kasdim itu telah pergi untuk selamanya dari pada kita! Padahal mereka tidak pergi untuk selamanya!”

— Yeremia 37:9

“Dan sekalipun Yeremia menjawab: "Itu bohong, aku tidak hendak menyeberang kepada orang Kasdim!", tetapi Yeria tidak mendengarkan, lalu ia menangkap Yeremia dan membawanya menghadap para pemuka.”

— Yeremia 37:14

“Pada suatu kali raja Zedekia menyuruh orang mengambil dia. Lalu dengan diam-diam bertanyalah raja di istananya kepadanya: "Adakah datang firman dari TUHAN?" Jawab Yeremia: "Ada!" Lagi katanya: "Bunyinya: Engkau akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel!"”

— Yeremia 37:17

Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.

Yeremia 37:9 — “Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu membohongi dirimu sendiri dengan mengatakan: Orang-orang Kasdim itu telah pergi untuk selamanya dari pada kita! Padahal mereka tidak pergi untuk selamanya!”

Ada kalanya kita ingin sebuah masalah sudah selesai, lalu mulai memperlakukannya seolah-olah memang sudah selesai. Mungkin sebuah pertengkaran dengan teman belum dibicarakan, tetapi kita berkata, “Sudahlah, tidak penting.” Mungkin juga kita baik-baik saja. Tidak semua hal perlu dicurigai. Namun, ayat ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah yang kuucapkan sesuai dengan kenyataan, atau hanya yang ingin kudengar?

Firman Tuhan melalui Yeremia menegur orang-orang yang meyakinkan diri bahwa ancaman telah pergi untuk selamanya, padahal belum. Keinginan mereka untuk merasa aman tidak mengubah keadaan. Jujur terhadap kenyataan memang bisa terasa tidak nyaman, tetapi membohongi diri sendiri tidak membuat kita sungguh aman.

Yeremia sendiri menghadapi orang yang tidak mau mendengarnya. Ketika ia menyangkal tuduhan bahwa ia hendak menyeberang kepada orang Kasdim, Yeria tetap menangkapnya (Yeremia 37:14). Kemudian, saat Raja Zedekia diam-diam bertanya apakah ada firman dari TUHAN, Yeremia tetap menyampaikan jawaban yang berat untuk didengar (Yeremia 37:17). Di tengah tekanan itu, ia tidak mengganti kebenaran dengan jawaban yang lebih menyenangkan.

Kita tidak sedang berada dalam keadaan Yeremia. Namun, pertanyaan tentang kejujuran tetap dekat dengan keseharian kita: apakah aku mengatakan sesuatu baik-baik saja hanya agar tidak perlu menghadapi percakapan yang sulit? Apakah aku ikut menertawakan seseorang supaya diterima teman-teman? Tidak perlu menjawab semuanya hari ini. Mulailah dengan satu hal yang nyata. Bawalah itu kepada Tuhan dengan jujur, lalu pikirkan langkah kecil yang bisa kamu ambil tanpa berpura-pura.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
  1. Bagian mana dari Yeremia 37:9 yang paling membuatmu berhenti dan berpikir? Mengapa?
  2. Apa bedanya berharap keadaan membaik dengan berpura-pura bahwa masalah sudah selesai?
  3. Mengapa menurutmu Yeremia tetap menyampaikan pesan yang berat ketika Zedekia bertanya kepadanya?
  4. Dalam pertemanan, kapan seseorang mungkin tergoda mengatakan “tidak apa-apa” meski sebenarnya perlu berbicara dengan jujur?
  5. Apa satu langkah kecil yang bisa kamu ambil minggu ini untuk lebih jujur terhadap suatu keadaan?
Doa Penutup

Tuhan, tolong aku melihat kenyataan dengan jujur, termasuk ketika aku lebih suka menghindarinya. Beri aku keberanian untuk mendengar firman-Mu dan mengambil langkah yang benar, tanpa harus berpura-pura kuat. Amin.

Masuk untuk meninggalkan komentar
Saat Aku Melakukan yang Benar, tetapi Tak Ada yang Peduli