Ketika Janji Menjadi Ukuran Integritas
Melepaskan, menepati, dan memimpin dengan hati yang benar
Ayat Alkitab Pilihan
“Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan,”
“Hari ini kamu telah bertobat dan melakukan apa yang benar di mata-Ku karena setiap orang memaklumkan pembebasan kepada saudaranya, dan kamu telah mengikat perjanjian di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan.”
“Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku; kamu masing-masing telah mengambil kembali budaknya laki-laki dan budaknya perempuan, yang telah kamu lepaskan sebagai orang merdeka menurut keinginannya, dan telah menundukkan mereka, supaya mereka menjadi budakmu laki-laki dan budakmu perempuan lagi.”
“Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi.”
“Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya;”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Ayat pilihan — Yeremia 34:8: “Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, sesudah raja Zedekia mengikat perjanjian dengan segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan,”
Firman Tuhan datang setelah sebuah perjanjian dibuat. Perjanjian itu bukan sekadar ucapan resmi, melainkan keputusan nyata untuk memaklumkan pembebasan. Yeremia 34:15 mencatat bahwa mereka telah melakukan apa yang benar di mata Tuhan ketika setiap orang memaklumkan pembebasan kepada saudaranya dan mengikat perjanjian di hadapan-Nya.
Namun, ketaatan itu tidak bertahan. Mereka berubah pikiran. Yeremia 34:16 berkata, “Tetapi kamu telah berbalik pikiran dan telah menajiskan nama-Ku; kamu masing-masing telah mengambil kembali budaknya laki-laki dan budaknya perempuan, yang telah kamu lepaskan sebagai orang merdeka menurut keinginannya, dan telah menundukkan mereka, supaya mereka menjadi budakmu laki-laki dan budakmu perempuan lagi.” Mereka pernah melakukan yang benar, tetapi kemudian menarik kembali kebebasan yang telah diberikan.
Di sinilah integritas diuji: bukan ketika kita mudah mengucapkan janji, melainkan ketika menepatinya menuntut pengorbanan, perubahan kebiasaan, atau pelepasan kendali. Seorang pria dapat merasa harus selalu tampak kuat, mampu mengurus banyak hal, dan menjaga citra sebagai penopang. Tetapi keteguhan karakter tidak dibangun dengan berpura-pura tidak lelah atau menyembunyikan keterbatasan. Keteguhan dibentuk ketika kita berani jujur, memeriksa kembali komitmen, dan tidak memakai tanggung jawab sebagai alasan untuk menguasai atau menekan orang lain.
Firman ini juga menyentuh cara kita memimpin. Kepemimpinan yang melayani tidak mengambil kembali ruang hidup orang lain setelah sebelumnya menjanjikan kebebasan. Di rumah, pekerjaan, pelayanan, maupun pergaulan, kita dipanggil untuk menghormati sesama dan setia pada perkataan yang telah diberikan. Empati membuat kita mau mendengar. Kerendahan hati menolong kita mengakui bila kita gagal menepati komitmen dan membutuhkan pertolongan.
Tuhan menegur umat itu dengan serius: “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Kamu ini tidak mendengarkan Aku agar setiap orang memaklumkan pembebasan kepada sesamanya dan kepada saudaranya, maka sesungguhnya, Aku memaklumkan bagimu pembebasan, demikianlah firman TUHAN, untuk diserahkan kepada pedang, penyakit sampar dan kelaparan. Aku akan membuat kamu menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi.” Pembebasan yang mereka umumkan ternyata tidak sungguh-sungguh dijalankan, sebab mereka tidak mendengarkan Tuhan.
Yeremia 34:18 melanjutkan, “Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, dengan memotong anak lembu jantan menjadi dua untuk berjalan di antara belahan-belahannya;” Ayat ini menegaskan beratnya pelanggaran perjanjian di hadapan Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh memandang ringan janji, komitmen, atau kata-kata yang kita ucapkan.
Hari ini, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya: adakah kebebasan, kepercayaan, atau ruang yang pernah kita janjikan kepada seseorang, tetapi kemudian kita ambil kembali? Mungkin kita perlu meminta maaf. Mungkin kita perlu mengubah cara memimpin. Mungkin kita juga perlu mengakui bahwa kita tidak mampu memikul semuanya sendirian.
Itu bukan kegagalan. Kejujuran dapat menjadi awal pertobatan yang nyata. Kiranya kita belajar menjadi pria yang perkataannya dapat dipercaya, yang tidak memanfaatkan kekuatan untuk menundukkan sesama, dan yang memimpin melalui kasih, kebenaran, serta kesetiaan pada komitmen di hadapan Tuhan.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Komitmen apa dalam hidup Anda yang perlu diperiksa kembali agar sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan?
- Dalam situasi apa Anda pernah berjanji memberi ruang atau kebebasan, tetapi kemudian mengambilnya kembali?
- Bagaimana tekanan untuk selalu tampak kuat dapat memengaruhi kejujuran Anda tentang kelelahan, keterbatasan, atau kebutuhan akan pertolongan?
- Apa wujud kepemimpinan yang melayani dalam keluarga, pekerjaan, gereja, atau komunitas Anda saat ini?
- Langkah nyata apa yang dapat Anda ambil minggu ini untuk memulihkan kepercayaan atau menepati komitmen yang pernah Anda buat?
Doa Penutup
Tuhan, Engkau melihat hati kami dan mengetahui setiap janji yang kami ucapkan. Ampunilah kami ketika kami berbalik dari komitmen, mengambil kembali apa yang telah kami berikan, atau memakai tanggung jawab untuk menekan sesama. Bentuklah kami menjadi pria yang berintegritas, jujur tentang keterbatasan, dan peka terhadap beban orang lain. Ajarlah kami memimpin dengan kasih dan kerendahan hati, menepati perkataan kami, serta berani meminta pertolongan ketika kami lelah. Tolong kami untuk mendengarkan Engkau dan hidup setia di hadapan-Mu. Amin.