Langsung ke Konten

Mundur Sejenak Bukan Berarti Menyerah

4 November 2026 oleh
Mundur Sejenak Bukan Berarti Menyerah
Editor
| Belum ada komentar
Renungan Perempuan • 4 menit membaca

Mundur Sejenak Bukan Berarti Menyerah

Memberi ruang bagi diri sendiri tanpa melepaskan apa yang dipercayakan Tuhan

Ayat Alkitab Pilihan

“Lalu berkatalah para pemuka itu kepada Barukh: "Pergilah, sembunyikanlah dirimu bersama Yeremia! Janganlah ada orang yang mengetahui di mana tempatmu!"”

— Yeremia 36:19

“Bahkan raja memerintahkan pangeran Yerahmeel, Seraya bin Azriel dan Selemya bin Abdeel untuk menangkap juru tulis Barukh dan nabi Yeremia, tetapi TUHAN menyembunyikan mereka.”

— Yeremia 36:26

“Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.”

— Yeremia 36:32

Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.

Yeremia 36:19 — Lalu berkatalah para pemuka itu kepada Barukh: "Pergilah, sembunyikanlah dirimu bersama Yeremia! Janganlah ada orang yang mengetahui di mana tempatmu!"

Pada 5 November ini, mungkin ada di antara kita yang merasa harus selalu siap: siap bekerja, mendengar keluh kesah orang lain, atau memenuhi harapan yang datang silih berganti. Jika kita berhenti sebentar, apakah itu berarti kita kurang setia? Kisah Barukh mengajak kita memikirkan pertanyaan itu dengan lebih jernih.

Barukh telah menjalankan tugasnya sebagai juru tulis Yeremia. Namun ketika situasi menjadi berbahaya, para pemuka menyuruhnya bersembunyi bersama Yeremia. Ia tidak diminta membuktikan keberanian dengan tetap berada di tempat yang mengancam. Yeremia 36:26 mencatat bahwa raja kemudian memerintahkan penangkapan mereka, tetapi TUHAN menyembunyikan mereka. Ada ancaman yang nyata, dan ada perlindungan Tuhan dalam peristiwa itu.

Kita tidak dapat menyamakan setiap kelelahan dengan bahaya yang dihadapi Barukh. Namun kisah ini menolong kita melihat bahwa mengambil jarak tidak selalu berarti meninggalkan panggilan. Bagi perempuan dalam musim hidup apa pun—sedang belajar, bekerja, merawat seseorang, mencari arah, atau menghadapi perubahan—batas yang sehat dapat memberi ruang untuk mengenali apa yang sanggup ditanggung hari ini dan apa yang perlu ditunda atau dibagikan kepada orang lain.

Diamlah sejenak. Apa yang sedang terasa berat di dalam hati? Kita boleh mengakuinya di hadapan Tuhan tanpa berpura-pura kuat. Setelah masa bersembunyi itu, Yeremia 36:32 mencatat bahwa Barukh kembali menuliskan perkataan yang disampaikan Yeremia pada gulungan yang lain. Tugas itu berlanjut, meski tidak dengan cara memaksakan diri tetap berada di tengah ancaman.

Hari ini, mungkin langkah yang perlu diambil sederhana: mengatakan bahwa kita membutuhkan waktu, meminta bantuan, atau beristirahat sebelum menjawab sebuah tuntutan. Kita tidak perlu menjadikan kesibukan sebagai ukuran kesetiaan. Mari meminta hikmat Tuhan untuk mengetahui kapan harus melangkah dan kapan perlu menepi.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
  1. Bagian mana dari kisah Barukh yang paling menarik perhatianmu hari ini, dan mengapa?
  2. Kapan kamu merasa perlu terus tersedia bagi orang lain, meskipun dirimu sudah lelah?
  3. Apa perbedaan antara mengambil jeda yang sehat dan menghindari tanggung jawab menurutmu?
  4. Batas sederhana apa yang perlu kamu komunikasikan dalam musim hidupmu saat ini?
  5. Bagaimana kelompok sel ini dapat menjadi tempat yang aman untuk meminta bantuan dan saling mendoakan?
Doa Penutup

Tuhan, terima kasih karena kami boleh datang kepada-Mu dengan jujur, termasuk saat merasa lelah dan takut. Berilah kami hikmat untuk mengenali batas diri, keberanian untuk meminta bantuan, dan hati yang tetap setia pada apa yang Engkau percayakan. Ajarlah kami melangkah maupun beristirahat dengan bersandar kepada-Mu. Amin.

Masuk untuk meninggalkan komentar
Setia pada yang Perlu Dijaga