Ditopang dengan Lembut
Saat pertolongan datang, kita boleh menerimanya tanpa rasa bersalah
Ayat Alkitab Pilihan
“Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi milik pangeran Malkia yang ada di pelataran penjagaan itu; mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu.”
“"Ya tuanku raja, perbuatan orang-orang ini jahat dalam segala apa yang mereka lakukan terhadap nabi Yeremia, yakni memasukkan dia ke dalam perigi; ia akan mati kelaparan di tempat itu! Sebab tidak ada lagi roti di kota."”
“Berserulah Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, kepada Yeremia: "Taruhlah pakaian yang buruk-buruk dan robek-robek itu di bawah ketiakmu sebagai ganjal tali!" Yeremiapun berbuat demikian.”
“Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.”
“Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara.”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Ayat pilihan — Yeremia 38:6: “Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu.”
Lumpur menahan langkah Yeremia. Ia tidak dapat keluar hanya dengan berusaha lebih keras. Gambaran itu mungkin terasa dekat bagi perempuan yang sedang menghadapi tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, pergumulan kesehatan, atau harapan orang lain yang seolah tidak ada habisnya. Ada juga musim hidup yang tampak lengang dari luar, tetapi berat di dalam. Lelah tetaplah lelah.
Dalam Yeremia 38:9, Ebed-Melekh menyebut tindakan terhadap Yeremia itu jahat dan menyuarakan bahaya yang mengancamnya. Ia tidak berpura-pura bahwa keadaan Yeremia baik-baik saja. Lalu, sebelum Yeremia ditarik keluar, ia meminta Yeremia menaruh kain-kain robek sebagai ganjal di bawah ketiaknya (Yeremia 38:12). Perhatian kecil itu berarti: pertolongan tidak harus mengabaikan bagian yang sedang sakit. Yeremia pun diangkat dari perigi, meski kisahnya belum selesai; ia masih tinggal di pelataran penjagaan (Yeremia 38:13).
Hari ini, mungkin kita perlu jujur tentang lumpur yang sedang menahan kita. Mengakui batas diri bukanlah kegagalan iman. Kita boleh beristirahat, menyampaikan kebutuhan dengan jelas, dan menerima bantuan yang diberikan dengan penuh perhatian. Kita juga dapat belajar menolong orang lain tanpa menambah luka mereka.
Yeremia kemudian mengajak raja mendengarkan suara TUHAN (Yeremia 38:20). Perkataan itu ditujukan kepada raja dalam keadaan yang khusus, bukan janji bahwa setiap kesulitan kita akan segera berakhir. Namun, ajakan untuk mendengarkan Tuhan patut kita renungkan: di tengah tekanan untuk terus kuat, sudahkah kita memberi ruang bagi firman-Nya untuk menuntun langkah berikutnya? Satu langkah saja. Dengan jujur dan penuh pengharapan.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Keadaan apa yang belakangan ini terasa seperti lumpur yang menahan langkahmu?
- Apa yang membuatmu sulit mengakui kelelahan atau meminta pertolongan?
- Apa yang kamu pelajari dari cara Ebed-Melekh memperhatikan keselamatan dan rasa sakit Yeremia?
- Batas atau waktu istirahat apa yang perlu kamu jaga dalam musim hidupmu sekarang?
- Bagaimana kelompok sel ini dapat saling mendengarkan dan menolong tanpa mengabaikan kebutuhan masing-masing?
Doa Penutup
Tuhan, Engkau melihat keadaan kami dengan jelas, termasuk beban yang sulit kami ceritakan. Tolong kami jujur tentang kelelahan, bijaksana menjaga batas, dan rendah hati menerima pertolongan. Ajar kami mendengarkan firman-Mu serta memperhatikan sesama dengan lembut. Amin.