Berani Mengatakan yang Benar
Kejujuran di hadapan Tuhan, orang lain, dan diri sendiri
Ayat Alkitab Pilihan
“Pada suatu kali raja Zedekia menyuruh orang mengambil dia. Lalu dengan diam-diam bertanyalah raja di istananya kepadanya: "Adakah datang firman dari TUHAN?" Jawab Yeremia: "Ada!" Lagi katanya: "Bunyinya: Engkau akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel!"”
“Sekarang, dengarkanlah, hai tuanku raja! Biarlah permohonanku sampai di hadapanmu: janganlah kembalikan aku ke rumah panitera Yonatan, nanti aku mati di sana."”
“Raja Zedekia memberi perintah, lalu orang menahan Yeremia di pelataran penjagaan dan memberikan setiap hari kepadanya sepotong roti dari jalan tukang roti, sampai pada waktu segala roti habis di kota itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Ayat pilihan — Yeremia 37:17: Raja Zedekia bertanya kepada Yeremia, “Adakah datang firman dari TUHAN?” Yeremia menjawab, “Ada!” Lalu ia menyampaikan pesan yang tidak menyenangkan untuk didengar: “Engkau akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel!”
Yeremia tidak mengubah pesan itu agar diterima raja. Ia mengatakan yang benar, meski keadaannya sendiri sulit. Keberaniannya mengajak kita bertanya: ketika tekanan datang dari banyak arah, kebenaran apa yang sedang enggan kita akui?
Sebagian perempuan sedang belajar, sebagian bekerja, sebagian merawat orang terdekat, dan sebagian menjalani beberapa tanggung jawab sekaligus. Di tengah semua itu, mudah untuk berkata, “Aku baik-baik saja,” padahal hati sedang lelah. Kita mungkin takut mengecewakan orang lain jika mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan, waktu untuk beristirahat, atau ruang untuk berdoa. Namun, mengakui keadaan kita bukanlah kegagalan. Itu adalah langkah jujur untuk merawat kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Yeremia pun menyampaikan kebutuhannya dengan jelas. Dalam Yeremia 37:20, ia memohon agar tidak dikembalikan ke tempat yang menurutnya dapat membuatnya mati. Ia tidak berpura-pura kuat. Raja kemudian memerintahkan agar Yeremia ditahan di pelataran penjagaan dan diberi sepotong roti setiap hari, sampai roti di kota itu habis (Yeremia 37:21). Bagian ini tidak menggambarkan hidup yang tiba-tiba menjadi mudah. Yeremia tetap ditahan, dan persediaan roti pun terbatas.
Hari ini, mungkin kejujuran yang kita perlukan sederhana: menyebutkan rasa takut dalam doa, mengatakan kepada seseorang bahwa kita tidak sanggup mengerjakan semuanya, atau meminta pertolongan tanpa merasa bersalah. Kita dapat belajar dari Yeremia untuk menyampaikan kebenaran tanpa menutupi kebutuhan diri. Di hadapan Tuhan, kita tidak perlu berpura-pura.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Apa yang paling menonjol bagimu dari jawaban Yeremia kepada raja dalam Yeremia 37:17?
- Kapan kamu merasa terdorong mengatakan “aku baik-baik saja” meskipun sebenarnya sedang lelah?
- Apa yang dapat kita pelajari dari permohonan Yeremia dalam Yeremia 37:20 tentang menyampaikan kebutuhan dengan jujur?
- Bagaimana Yeremia 37:21 menolong kita melihat perbedaan antara menerima pertolongan dan mengharapkan semua kesulitan segera berakhir?
- Kepada siapa kamu dapat berbicara dengan jujur dan aman tentang satu kebutuhanmu minggu ini?
Doa Penutup
Tuhan, ajar aku mendengar firman-Mu dan berani menghadapi kebenaran, sekalipun tidak mudah. Tolong aku jujur tentang rasa lelah dan kebutuhanku, tanpa malu meminta pertolongan. Berilah aku kebijaksanaan untuk berbicara dengan tulus dan menjalani hari ini bersama-Mu. Amin.