Menjadi Dewasa dengan Arah yang Teguh
Belajar mendengarkan Tuhan di tengah banyak pilihan
Ayat Alkitab Pilihan
“Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami dalam segala apa yang diperintahkannya kepada kami, agar kami tidak minum anggur selama hidup kami, yakni kami sendiri, isteri kami, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami;”
“Memang perintah Yonadab bin Rekhab itu masih ditepati; ia telah memerintahkan kepada keturunannya, supaya mereka jangan minum anggur, dan sampai sekarang ini mereka tidak meminumnya, sebab mereka mendengarkan perintah bapa leluhur mereka. Aku sendiri telah berbicara kepada kamu, terus-menerus, tetapi kamu tidak mendengarkan Aku.”
“Sungguh, keturunan Yonadab bin Rekhab menepati perintah yang diberikan bapa leluhurnya kepada mereka, tetapi bangsa ini tidak mau mendengarkan Aku!”
“maka beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Keturunan Yonadab bin Rekhab takkan terputus melayani Aku sepanjang masa."”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Ayat pilihan: Yeremia 35:8 — “Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab, bapa leluhur kami dalam segala apa yang diperintahkannya kepada kami, agar kami tidak minum anggur selama hidup kami, yakni kami sendiri, isteri kami, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan kami;”
Memasuki usia 17 sampai 21 tahun sering berarti berhadapan dengan banyak suara. Ada suara keluarga, teman, kampus, dunia kerja, media sosial, dan keinginan diri sendiri. Pilihan tentang studi, pekerjaan awal, relasi, serta arah masa depan dapat terasa melelahkan. Kita ingin bebas menentukan langkah, tetapi sekaligus takut salah.
Di tengah keadaan itu, keturunan Yonadab menunjukkan sesuatu yang sederhana namun kuat: mereka mendengarkan dan memegang apa yang telah diperintahkan kepada mereka. Mereka berkata, “Kami mentaati suara Yonadab bin Rekhab...” Ketaatan mereka bukan ditampilkan sebagai usaha untuk terlihat hebat. Itu menjadi pola hidup yang dijalani bersama, oleh mereka dan keluarga mereka.
Yeremia 35:14 menegaskan bahwa perintah Yonadab masih ditepati karena keturunannya mendengarkan bapa leluhur mereka, sementara Tuhan berkata, “Aku sendiri telah berbicara kepada kamu, terus-menerus, tetapi kamu tidak mendengarkan Aku.” Lalu Yeremia 35:16 menyatakan, “Sungguh, keturunan Yonadab bin Rekhab menepati perintah yang diberikan bapa leluhurnya kepada mereka, tetapi bangsa ini tidak mau mendengarkan Aku!” Dalam bagian ini, Tuhan memperlihatkan perbedaan antara mendengarkan dan tidak mendengarkan.
Bagi kita, mendengarkan Tuhan bukan berarti semua keputusan tentang masa depan langsung menjadi mudah. Namun, kita dapat belajar menilai banyak suara dengan lebih jernih. Tidak semua pencapaian yang terlihat di layar harus menjadi ukuran hidup kita. Tidak setiap pilihan teman harus diikuti. Tidak semua kegagalan dalam studi, pekerjaan awal, atau relasi berarti hidup kita kehilangan arah. Di tengah proses menemukan jati diri, karakter yang mau mendengarkan Tuhan memberi dasar untuk melangkah dengan tekun dan mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan integritas.
Perhatikan juga tujuan yang disebutkan dalam Yeremia 35:19: “maka beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Keturunan Yonadab bin Rekhab takkan terputus melayani Aku sepanjang masa.” Kesetiaan mereka diarahkan kepada pelayanan kepada Tuhan. Ini menolong kita melihat masa transisi bukan hanya sebagai masa untuk membangun nama atau mencapai kemapanan secepat mungkin. Masa ini juga dapat menjadi waktu untuk bertanya dengan jujur: bagaimana pilihan-pilihanku mencerminkan ketaatan dan kesediaanku melayani Tuhan serta memberi dampak bagi sesama?
Kamu mungkin belum tahu akan kuliah di mana, bekerja sebagai apa, atau seperti apa hidupmu beberapa tahun lagi. Itu tidak membuatmu tertinggal. Mulailah dari langkah yang dapat dijalani hari ini: mendengarkan Tuhan, memeriksa motivasi, bertanggung jawab dalam hal yang dipercayakan, dan tetap teguh ketika perbandingan membuatmu ragu. Arah hidup tidak selalu tampak sekaligus. Tetapi hati yang belajar mendengarkan dapat dibentuk untuk berjalan dengan setia.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Suara apa yang paling sering memengaruhi keputusanmu saat ini, dan bagaimana kamu membedakannya dari kehendak Tuhan?
- Dalam hal apa kamu sedang mengalami kelelahan karena terlalu banyak pilihan tentang studi, pekerjaan, relasi, atau masa depan?
- Apa bentuk ketaatan sederhana yang dapat kamu lakukan minggu ini meskipun belum mengetahui seluruh arah hidupmu?
- Bagaimana perbandingan di media sosial memengaruhi cara kamu menilai keberhasilan dan jati dirimu?
- Menurutmu, apa arti melayani Tuhan dalam fase hidupmu sekarang, baik di keluarga, komunitas, pendidikan, maupun pekerjaan?
Doa Penutup
Tuhan, di tengah banyak suara dan pilihan, ajarlah kami untuk mendengarkan-Mu dengan hati yang sungguh. Beri kami hikmat ketika menentukan langkah dalam studi, pekerjaan, relasi, dan masa depan. Tolong kami agar tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran nilai diri kami. Bentuklah karakter yang tekun, mampu belajar dari kegagalan, dan tetap berintegritas. Tunjukkan kepada kami cara melayani-Mu dan memberi dampak bagi sesama dalam keadaan kami masing-masing. Amin.