Membeli Ladang di Tengah Kehancuran
Saat Logika Keluarga Menyerah, Janji Tuhan Tetap Bekerja
Yeremia 32:15, 17 (TB)
"Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Rumah, ladang dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini! Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!"
Yeremia sedang dipenjara. Negaranya di ambang kehancuran total oleh pasukan Babel yang beringas, membawa teror yang meremukkan nyali setiap penduduk Yerusalem tanpa pandang bulu. Tamat sudah. Secara logika, negara itu sudah mati. Di tengah keputusasaan absolut itulah Tuhan menyuruh Yeremia melakukan hal yang paling tidak masuk akal: membeli sebidang tanah. Gila. Ini kebodohan murni. Secara finansial, investasi ini adalah tindakan bunuh diri yang konyol. Namun Yeremia menurut. Ia membeli ladang di Anatot sebagai proklamasi iman yang radikal, meyakini bahwa pemulihan akan datang bahkan ketika matanya hanya dihidangkan kehancuran.
Lihat keluargamu hari ini. Mungkin keadaannya sedang hancur. Ayah dan ibu terus bertengkar tentang uang, bayang-bayang utang keluarga mencekik masa depanmu, atau pengkhianatan di dalam rumah membuat tempat perlindungan utamamu berubah menjadi medan perang mental yang menyiksa. Kau lelah. Sangat lelah. Rasanya ingin kabur saja dari realita menyakitkan ini dan mencari pelarian di luar. Jangan lari. Di titik terendah inilah Tuhan sering memanggil kita untuk ikut 'membeli ladang'. Berinvestasi dalam iman. Memilih untuk tetap mendoakan dan mengasihi keluargamu, ketika secara akal sehat hubungan itu sudah terlalu busuk untuk diselamatkan. Tuhan mengerti. Dia melihat setiap air mata yang kau sembunyikan di balik senyum palsumu saat beribadah di gereja.
"Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu," seru Yeremia. Ini bukan pil penenang murahan yang menjanjikan bahwa besok pagi orang tuamu tiba-tiba harmonis atau uang langsung turun dari langit. Ini adalah deklarasi kedaulatan. Bertahanlah. Tanamkan pengharapanmu di tanah keluargamu yang sedang tandus. Kelak, kasih karunia-Nya yang liar dan tak terduga itu akan menumbuhkan kehidupan baru tepat di tempat yang kau pikir sudah mati secara permanen.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel:
Apa "ladang Anatot" (situasi mustahil atau krisis) yang sedang kamu hadapi dalam keluargamu saat ini?
Mengapa sangat sulit untuk tetap berharap kepada Tuhan ketika realita di rumah berbanding terbalik dengan doa-doa kita?
Langkah iman nyata apa yang bisa kamu ambil minggu ini untuk mulai "membeli ladang" di tengah konflik atau beban keluargamu?
Bagaimana pemahaman bahwa "tidak ada yang mustahil bagi Tuhan" mengubah caramu merencanakan masa depan, terlepas dari seburuk apa pun latar belakang keluargamu?
Pernahkah kamu melihat Tuhan memulihkan keadaan yang sepertinya sudah hancur total? Bagikan kesaksianmu.
Doa Penutup:
Tuhan Yesus, terkadang aku ingin menyerah dengan keadaan keluargaku yang terasa buntu dan terlalu berat untuk kupikul di usiaku ini. Ajar aku memiliki keberanian iman seperti Yeremia, yang berani menanamkan harapan dan kasih di tengah kehancuran, karena aku sungguh tahu tidak ada satu hal pun yang mustahil bagi-Mu. Pulihkan keluargaku, sembuhkan luka batin kami, dan pakailah aku menjadi alat damai sejahtera-Mu di tengah rumahku. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.