Langsung ke Konten

Memasuki Dewasa dengan Hati yang Berani Jujur

5 November 2026 oleh
Memasuki Dewasa dengan Hati yang Berani Jujur
Editor
| Belum ada komentar
Renungan Pemuda • 5 menit membaca

Memasuki Dewasa dengan Hati yang Berani Jujur

Belajar membawa keputusan, ketakutan, dan kebutuhan kita kepada Tuhan

Ayat Alkitab Pilihan

“Pada suatu kali raja Zedekia menyuruh Yukhal bin Selemya dan imam Zefanya bin Maaseya kepada Yeremia untuk meminta: "Berdoalah hendaknya untuk kami kepada TUHAN, Allah kita!"”

— Yeremia 37:3

“Pada suatu kali raja Zedekia menyuruh orang mengambil dia. Lalu dengan diam-diam bertanyalah raja di istananya kepadanya: "Adakah datang firman dari TUHAN?" Jawab Yeremia: "Ada!" Lagi katanya: "Bunyinya: Engkau akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel!"”

— Yeremia 37:17

“Kemudian berkatalah Yeremia kepada raja Zedekia: "Apakah dosa yang kuperbuat kepadamu, kepada pegawai-pegawaimu dan kepada bangsa ini, sehingga kamu memasukkan aku ke dalam penjara?”

— Yeremia 37:18

“Sekarang, dengarkanlah, hai tuanku raja! Biarlah permohonanku sampai di hadapanmu: janganlah kembalikan aku ke rumah panitera Yonatan, nanti aku mati di sana."”

— Yeremia 37:20

“Raja Zedekia memberi perintah, lalu orang menahan Yeremia di pelataran penjagaan dan memberikan setiap hari kepadanya sepotong roti dari jalan tukang roti, sampai pada waktu segala roti habis di kota itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.”

— Yeremia 37:21

Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.

Ayat pilihan — Yeremia 37:3: “Pada suatu kali raja Zedekia menyuruh Yukhal bin Selemya dan imam Zefanya bin Maaseya kepada Yeremia untuk meminta: "Berdoalah hendaknya untuk kami kepada TUHAN, Allah kita!"”

Memasuki usia 17 hingga 21 tahun sering berarti berhadapan dengan banyak pilihan. Ada yang mulai memikirkan kuliah, pekerjaan, relasi, atau arah hidup. Ada juga yang masih mencari bentuk masa depan sambil melihat pencapaian orang lain di dunia digital. Tidak semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama.

Dalam ayat utama, raja Zedekia meminta orang datang kepada Yeremia dengan satu permohonan: “Berdoalah hendaknya untuk kami kepada TUHAN, Allah kita!” Permintaan itu sederhana, tetapi mengingatkan kita bahwa masa transisi tidak perlu dijalani dengan kekuatan sendiri. Kita boleh datang kepada Tuhan dengan kebutuhan yang nyata, bahkan ketika arah hidup belum jelas.

Namun, mencari Tuhan bukan berarti hanya mengharapkan jawaban yang sesuai keinginan. Ketika Zedekia bertanya secara diam-diam kepada Yeremia, “Adakah datang firman dari TUHAN?”, Yeremia menjawab, “Ada!” Lalu ia menyampaikan berita yang sulit: “Engkau akan diserahkan ke dalam tangan raja Babel!” (Yeremia 37:17). Firman Tuhan tidak selalu menguatkan ambisi kita atau membuat pilihan terasa mudah. Kadang-kadang firman itu menolong kita melihat kenyataan dengan jujur.

Kejujuran seperti ini penting ketika kita sedang menentukan langkah studi, pekerjaan awal, relasi, atau arah pelayanan. Perbandingan digital dapat membuat kita ingin tampak berhasil lebih cepat daripada keadaan sebenarnya. Padahal, menjadi dewasa juga berarti berani mengakui apa yang kita tahu, apa yang belum kita pahami, dan pertolongan apa yang kita perlukan.

Yeremia sendiri tidak menyembunyikan keadaannya. Ia berkata kepada raja, “Apakah dosa yang kuperbuat kepadamu, kepada pegawai-pegawaimu dan kepada bangsa ini, sehingga kamu memasukkan aku ke dalam penjara?” (Yeremia 37:18). Ia menyampaikan pertanyaan yang jujur. Setelah itu ia memohon, “Sekarang, dengarkanlah, hai tuanku raja! Biarlah permohonanku sampai di hadapanmu: janganlah kembalikan aku ke rumah panitera Yonatan, nanti aku mati di sana.” (Yeremia 37:20).

Ada keberanian dalam mengutarakan kebenaran dan kebutuhan tanpa berpura-pura kuat. Jati diri tidak dibangun hanya melalui pengakuan orang lain, jumlah pencapaian, atau kecepatan mencapai kemandirian. Dalam bagian ini, kita melihat Yeremia tetap menyampaikan firman dan sekaligus menyampaikan permohonannya. Iman tidak menghapus kejujuran tentang keadaan.

Jawaban yang diterima Yeremia tidak berupa kebebasan penuh dari kesulitan. Raja Zedekia memerintahkan agar ia ditahan di pelataran penjagaan. Namun, “memberikan setiap hari kepadanya sepotong roti dari jalan tukang roti, sampai pada waktu segala roti habis di kota itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.” (Yeremia 37:21). Keadaan itu tetap terbatas, tetapi ada pemeliharaan yang diterimanya hari demi hari.

Mungkin hari ini kamu belum memperoleh semua kepastian tentang masa depan. Jangan mengukur nilai dirimu dari seberapa cepat kamu menyamai orang lain. Bawalah keputusanmu kepada Tuhan, dengarkan firman-Nya dengan hati terbuka, dan belajarlah berbicara jujur tentang kebutuhanmu. Ketekunan sering bertumbuh bukan dari kepastian besar, melainkan dari kesetiaan menjalani satu hari bersama Tuhan.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
  1. Bagian mana dari masa transisi menuju dewasa yang paling ingin kamu bawa dalam doa kepada Tuhan saat ini?
  2. Mengapa kita kadang hanya ingin mendengar jawaban Tuhan yang sesuai dengan harapan kita?
  3. Apa perbedaan antara membangun jati diri dengan jujur dan membangun citra diri agar diakui orang lain?
  4. Dalam hal apa kamu perlu menyampaikan kebutuhan atau pergumulanmu dengan lebih terbuka dan bijaksana?
  5. Bagaimana kelompok dapat saling mendukung untuk tetap tekun ketika arah masa depan belum jelas?
Doa Penutup

Tuhan, Engkaulah Allah kami. Di tengah banyak pilihan dan ketidakpastian, ajarlah kami datang kepada-Mu dengan hati yang jujur. Tolong kami menerima firman-Mu, termasuk ketika firman itu menegur atau menunjukkan kenyataan yang tidak mudah. Beri kami keberanian untuk menyampaikan kebutuhan tanpa berpura-pura kuat, hikmat dalam mengambil keputusan, dan ketekunan menjalani setiap hari. Jauhkan kami dari perbandingan yang membuat kami kehilangan syukur dan arah. Bentuklah karakter kami agar tetap berintegritas dan peka terhadap sesama. Amin.

Masuk untuk meninggalkan komentar
Memasuki Kedewasaan dengan Kebebasan yang Bertanggung Jawab