Di Persimpangan Dewasa, Pilih Mendengar Tuhan
Belajar melangkah ketika tekanan, ketakutan, dan banyak pilihan membuat arah hidup terasa keruh
Ayat Alkitab Pilihan
“Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi milik pangeran Malkia yang ada di pelataran penjagaan itu; mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu.”
“Tetapi ketika didengar Ebed-Melekh, orang Etiopia itu--ia seorang sida-sida yang tinggal di istana raja--bahwa Yeremia telah dimasukkan ke dalam perigi--pada waktu itu raja sedang duduk di pintu gerbang Benyamin--”
“"Ya tuanku raja, perbuatan orang-orang ini jahat dalam segala apa yang mereka lakukan terhadap nabi Yeremia, yakni memasukkan dia ke dalam perigi; ia akan mati kelaparan di tempat itu! Sebab tidak ada lagi roti di kota."”
“Lalu raja memberi perintah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, katanya: "Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!"”
“Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.”
“Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: "Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup.”
“Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: "Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku."”
“Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara.”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Yeremia 38:6 menggambarkan keadaan yang sangat nyata: Yeremia dimasukkan ke dalam perigi, dan di sana tidak ada air, hanya lumpur. Ia terperosok ke dalamnya. Bagi pemuda yang sedang memasuki usia 17 hingga 21 tahun, lumpur itu dapat mengingatkan kita pada masa transisi yang tidak selalu jelas. Ada pilihan studi, langkah kerja awal, relasi, harapan keluarga, dan perbandingan dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih maju di layar digital. Tidak semua orang mengalami tekanan yang sama, tetapi banyak keputusan dapat membuat hati terasa berat dan pikiran cepat lelah.
Yeremia tidak keluar dari perigi karena situasinya tiba-tiba menjadi mudah. Ayat 7 menunjukkan bahwa Ebed-Melekh mendengar kabar tentang Yeremia. Ia tidak berhenti pada rasa prihatin. Dalam ayat 9, ia berkata kepada raja bahwa tindakan terhadap Yeremia itu jahat dan bahwa Yeremia dapat mati kelaparan karena tidak ada lagi roti di kota. Lalu raja memberi perintah dalam ayat 10, “Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!” Mereka pun menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali, seperti dicatat dalam ayat 13.
Kisah ini memperlihatkan bahwa di tengah masa sulit, keberadaan orang yang mau mendengar, berbicara dengan benar, dan mengambil tindakan dapat menjadi pertolongan yang berarti. Karena itu, jangan menganggap bahwa menjadi dewasa berarti harus menghadapi semua hal sendirian. Carilah relasi yang sehat dan suportif. Belajarlah menerima nasihat yang jujur, bukan hanya suara yang menguatkan keinginanmu. Pada saat yang sama, jadilah pribadi yang peka terhadap orang lain yang sedang terperosok dalam “lumpur” pergumulannya.
Namun, keluar dari perigi bukan berarti semua keputusan berikutnya otomatis mudah. Setelah itu, Yeremia tetap harus menyampaikan firman Tuhan kepada Zedekia. Dalam ayat 17, ia menyampaikan pilihan yang jelas: “Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup.” Pilihan itu tidak terdengar ringan. Zedekia mengaku dalam ayat 19, “Aku takut kepada orang-orang Yehuda.” Ia lebih dahulu memikirkan kemungkinan dipermainkan oleh mereka.
Ketakutan seperti itu dapat muncul dalam diri kita ketika hendak menentukan jurusan, menerima kesempatan, mengakui kesalahan, mengakhiri relasi yang tidak sehat, atau mengambil langkah awal menuju pekerjaan. Kita dapat terlalu memikirkan penilaian orang lain. Kita dapat membandingkan proses kita dengan unggahan orang lain, lalu mengira bahwa keputusan yang benar harus selalu terlihat mengesankan. Padahal, Yeremia menyampaikan bahwa yang perlu didengar adalah suara TUHAN. “Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara,” demikian jawabnya dalam ayat 20.
Mendengar suara Tuhan bukan berarti semua ketidakpastian langsung hilang. Ayat-ayat ini justru menunjukkan bahwa ketaatan dapat berhadapan dengan rasa takut dan pilihan yang sulit. Tetapi kita tidak perlu membangun masa depan hanya dari tekanan, perbandingan, atau keinginan untuk segera terlihat berhasil. Di masa transisi ini, berhentilah sejenak. Periksalah motivasi, pertimbangkan nasihat yang benar, dan tanyakan apakah langkahmu membawa kamu untuk mendengar serta menaati firman Tuhan.
Kamu mungkin belum tahu seluruh arah hidupmu. Itu tidak membuatmu gagal. Hari ini, kesetiaan dapat dimulai dari satu keputusan yang jujur, satu keberanian untuk meminta pertolongan, dan satu kesediaan mendengar Tuhan sebelum mengikuti ketakutan. Dari sana, langkah berikutnya dapat dijalani dengan lebih sadar.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Bagian mana dari kisah Yeremia dalam Yeremia 38:6, 7, 9, 10, dan 13 yang paling menggambarkan tekanan atau ketidakpastian dalam masa transisi hidupmu?
- Apa perbedaan antara mencari nasihat yang sehat dan sekadar mencari pembenaran atas keputusan yang sudah ingin kita ambil?
- Dalam situasi apa ketakutan terhadap penilaian orang lain, seperti yang dialami Zedekia dalam Yeremia 38:19, dapat memengaruhi pilihan studi, pekerjaan, relasi, atau arah hidupmu?
- Apa arti praktis bagi kelompok kita untuk “mendengarkan suara TUHAN” berdasarkan Yeremia 38:17 dan 20 ketika menghadapi keputusan yang tidak mudah?
- Bagaimana kelompok ini dapat menjadi relasi yang mendengar, berbicara benar, dan menolong seperti Ebed-Melekh terhadap orang yang sedang terperosok dalam pergumulan?
Doa Penutup
Tuhan, kami datang dengan segala kebingungan, ketakutan, dan pilihan yang sedang kami hadapi dalam masa transisi menuju dewasa. Tolong kami untuk tidak hanya mengikuti tekanan atau perbandingan dengan orang lain. Ajarlah kami mendengar suara-Mu dan mempertimbangkan firman-Mu ketika mengambil keputusan.
Berikan kami keberanian untuk menerima pertolongan yang benar, serta hati yang peka untuk menolong orang lain yang sedang terperosok dalam kesulitan. Saat kami takut terhadap penilaian manusia seperti Zedekia, teguhkan kami untuk memperhatikan apa yang Engkau sampaikan. Tuntun setiap langkah kami dalam studi, pekerjaan, relasi, dan arah hidup, agar kami berjalan dengan kejujuran dan kesetiaan. Amin.