Langsung ke Konten

Bertumbuh Saat Rencana Harus Ditulis Ulang

4 November 2026 oleh
Bertumbuh Saat Rencana Harus Ditulis Ulang
Editor
| Belum ada komentar
Renungan Pemuda • 5 menit membaca

Bertumbuh Saat Rencana Harus Ditulis Ulang

Belajar setia melangkah ketika arah hidup belum sepenuhnya jelas

Ayat Alkitab Pilihan

“"Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu mengenai Israel, Yehuda dan segala bangsa, dari sejak Aku berbicara kepadamu, yakni dari sejak zaman Yosia, sampai waktu ini.”

— Yeremia 36:2

“Jadi Yeremia memanggil Barukh bin Neria, lalu Barukh menuliskan dalam kitab gulungan itu langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang telah difirmankan TUHAN kepadanya.”

— Yeremia 36:4

“Setiap kali apabila Yehudi selesai membacakan tiga empat lajur, maka raja mengoyak-ngoyaknya dengan pisau raut, lalu dilemparkan ke dalam api yang di perapian itu, sampai seluruh gulungan itu habis dimakan api yang di perapian itu.”

— Yeremia 36:23

“"Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama yang dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda.”

— Yeremia 36:28

“Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.”

— Yeremia 36:32

Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.

Ayat pilihan — Yeremia 36:2: “Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu mengenai Israel, Yehuda dan segala bangsa, dari sejak Aku berbicara kepadamu, yakni dari sejak zaman Yosia, sampai waktu ini.”

Memasuki usia 17 sampai 21 tahun sering terasa seperti membuka banyak pintu sekaligus. Ada pilihan studi, langkah kerja awal, relasi yang berubah, dan pertanyaan tentang siapa diri kita serta untuk apa hidup ini diarahkan. Banyaknya pilihan dapat melelahkan. Di tengah suara dari lingkungan dan perbandingan di dunia digital, kita mudah mengira bahwa masa depan harus segera tampak sempurna.

Yeremia 36:2 menunjukkan sebuah tindakan yang sederhana tetapi serius: firman Tuhan harus dituliskan. Yeremia menerima perintah itu, lalu memanggil Barukh. “Barukh menuliskan dalam kitab gulungan itu langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang telah difirmankan TUHAN kepadanya” (Yeremia 36:4). Ada proses mendengar, menerima, lalu mengerjakan dengan tekun. Tidak semua pertumbuhan terjadi melalui keputusan besar; sebagian dibentuk melalui kesetiaan pada langkah yang sedang dipercayakan.

Bagi pemuda yang sedang mencari arah, ini mengajak kita berhenti sejenak dari dorongan untuk segera terlihat berhasil. Sebelum menentukan pilihan, berikan ruang untuk mendengar firman Tuhan dan mengujinya dengan sungguh-sungguh. Bukan berarti semua keputusan menjadi mudah atau semua jawaban langsung tersedia. Namun, hidup tidak perlu dibangun hanya dari tekanan perbandingan, ketakutan tertinggal, atau keinginan membuktikan diri.

Kisah ini juga memperlihatkan bahwa pekerjaan yang benar dapat menghadapi penolakan. Setiap kali Yehudi selesai membacakan tiga atau empat lajur, raja mengoyak gulungan itu dan membakarnya sampai habis (Yeremia 36:23). Firman yang telah dituliskan tidak otomatis diterima oleh orang yang mendengarnya. Demikian juga, pilihan yang jujur, proses belajar yang tekun, atau usaha menjaga integritas mungkin tidak langsung dihargai. Penolakan tidak selalu berarti kita harus meninggalkan kebenaran; kita perlu kembali menilai langkah kita di hadapan Tuhan, bukan semata-mata berdasarkan reaksi orang lain.

Sesudah gulungan itu dibakar, Tuhan berfirman, “Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama” (Yeremia 36:28). Yeremia mengambil gulungan lain, dan Barukh menuliskan kembali perkataan yang telah dibakar itu; bahkan masih ditambahkan banyak perkataan seperti itu (Yeremia 36:32). Bagian ini bukan alasan untuk menganggap setiap kegagalan pasti menghasilkan keberhasilan sesuai keinginan kita. Namun, kita melihat ketekunan untuk kembali mengerjakan tugas yang dipercayakan, meskipun hasil sebelumnya dihancurkan.

Mungkin rencana studi berubah. Lamaran kerja belum berhasil. Relasi tidak berjalan seperti yang diharapkan. Atau pilihan yang dahulu tampak tepat kini perlu dipikirkan ulang. Masa depan memang dapat ditulis ulang dalam arti rencana kita perlu disusun kembali, tetapi pembentukan karakter tidak harus berhenti. Belajarlah mengevaluasi dengan jernih, beradaptasi tanpa kehilangan integritas, dan tetap terbuka terhadap arahan Tuhan melalui firman-Nya.

Hari ini, jangan ukur kedewasaan dari seberapa cepat kamu tampak mapan. Perhatikan juga kesetiaanmu ketika harus memulai kembali. Ada pekerjaan yang perlu ditulis, dipelajari, dan dikerjakan dengan sabar. Di sanalah ketekunan bertumbuh, dan di sanalah arah hidup dapat dibentuk dengan lebih jujur.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
  1. Dalam keputusan tentang studi, pekerjaan awal, atau relasi, suara apa yang paling sering memengaruhi arahmu: firman Tuhan, tekanan orang lain, atau perbandingan digital?
  2. Apa arti praktis “mendengar lalu mengerjakan” firman Tuhan bagi seorang pemuda yang sedang menghadapi banyak pilihan?
  3. Pernahkah kamu mengalami rencana yang harus disusun ulang? Apa yang kamu pelajari tentang ketekunan dan integritas melalui pengalaman itu?
  4. Bagaimana kelompok sel dapat menjadi lingkungan yang suportif untuk menolong anggotanya mengambil keputusan dengan jernih, bukan karena tekanan untuk terlihat berhasil?
  5. Langkah kecil apa yang dapat kamu kerjakan minggu ini untuk kembali setia pada tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadamu?
Doa Penutup

Tuhan, di tengah banyak pilihan dan ketidakpastian, ajarlah kami mendengar firman-Mu dengan sungguh-sungguh dan mengerjakannya dengan setia. Tolong kami mengambil keputusan dengan jernih, tidak dikendalikan oleh perbandingan atau keinginan untuk segera terlihat berhasil. Ketika rencana kami gagal atau harus disusun ulang, berikan kami ketekunan untuk belajar, memperbaiki langkah, dan tetap menjaga integritas. Bentuklah karakter kami dalam proses menuju kedewasaan dan tuntunlah kami untuk memakai hidup ini bagi kebaikan sesama. Amin.

Masuk untuk meninggalkan komentar
Menjadi Dewasa dengan Arah yang Teguh