Langsung ke Konten

Hikmat yang Berani Tampil

25 Oktober 2026 oleh
Hikmat yang Berani Tampil
Editor
| Belum ada komentar
Renungan Lansia • 3 menit membaca

Hikmat yang Berani Tampil

Ketika pengalaman dipakai untuk mengajak sesama mendengar Tuhan

Ayat Alkitab Pilihan

“Memang beberapa orang dari para tua-tua negeri itu tampil juga ke depan dan berkata kepada kumpulan rakyat itu, katanya:”

— Yeremia 26:17

“"Mikha, orang Moresyet itu, telah bernubuat di zaman Hizkia, raja Yehuda. Dia telah berkata kepada segenap bangsa Yehuda: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sion akan dibajak seperti ladang dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan.”

— Yeremia 26:18

“Apakah Hizkia, raja Yehuda, beserta segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia memohon belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang begitu besar atas diri kita sendiri?"”

— Yeremia 26:19

Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.

Yeremia 26:17: “Memang beberapa orang dari para tua-tua negeri itu tampil juga ke depan dan berkata kepada kumpulan rakyat itu, katanya:”

Para tua-tua itu tidak hanya menyimpan pendapat dalam hati. Mereka tampil dan berbicara ketika perkataan Yeremia sedang dipersoalkan. Singkat tindakan mereka, tetapi penting: mereka mengajak orang banyak mengingat apa yang pernah terjadi.

Dalam Yeremia 26:18, mereka mengingatkan bahwa Mikha pernah menyampaikan firman TUHAN yang keras tentang Sion dan Yerusalem. Lalu, dalam ayat 19, mereka mengajukan pertanyaan yang menuntut pertimbangan: Hizkia dan Yehuda tidak membunuh Mikha. Hizkia takut akan TUHAN dan memohon belas kasihan-Nya. Para tua-tua itu ingin rakyat memikirkan akibat jika mereka justru menolak peringatan yang disampaikan.

Saudara-saudari yang terkasih, usia yang bertambah dapat memberi kita kesempatan untuk mengingat dan menimbang sebelum berbicara. Bukan berarti setiap orang yang lebih tua selalu benar. Namun, pengalaman yang dibawa dengan takut akan Tuhan dapat menolong keluarga dan jemaat berhenti sejenak, mendengar dengan saksama, lalu mengambil keputusan tanpa tergesa-gesa.

Mungkin peran kita kini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tetap ada ruang untuk hadir dengan setia: mendengarkan seseorang yang sedang bimbang, mengingatkan dengan lembut ketika keputusan penting dibicarakan, atau mengajak sesama kembali memperhatikan firman Tuhan. Itulah salah satu cara mewariskan iman—bukan dengan merasa paling tahu, melainkan dengan menunjukkan kesediaan untuk terus belajar taat kepada-Nya.

Hari ini, mari bertanya: apakah perkataan kita membantu orang lain takut akan Tuhan dan mempertimbangkan jalan-Nya? Semoga pengalaman hidup tidak membuat hati kita keras, tetapi membentuk hikmat yang berani berbicara pada saat yang tepat.

Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
  1. Apa yang menarik perhatian Anda dari tindakan para tua-tua dalam Yeremia 26:17?
  2. Mengapa para tua-tua mengingatkan rakyat pada Mikha dan tanggapan Hizkia dalam ayat 18–19?
  3. Dalam situasi apa kita perlu berhenti sejenak dan menimbang keputusan di hadapan Tuhan?
  4. Bagaimana kita dapat menyampaikan pengalaman atau nasihat tanpa merasa diri selalu benar?
  5. Siapa yang dapat kita dengarkan atau dampingi dengan lebih sungguh pada pekan ini?
Doa Penutup

Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu. Ajarlah kami mendengar dengan saksama dan berbicara dengan rendah hati. Ketika kami diminta memberi pertimbangan, tuntunlah kami agar tidak tergesa-gesa, melainkan mengingat firman-Mu dan takut akan Engkau. Pakailah kehadiran kami untuk menolong sesama mengambil langkah yang bijaksana. Dalam nama Yesus, amin.

Masuk untuk meninggalkan komentar
Tetap Mendengar, Tetap Menyampaikan