Tuli di Tengah Kebisingan
Ketika Tuhan Berbicara Selama 23 Tahun, Apakah Keluarga Kita Mendengarkan?
"Sejak dari tahun yang ketiga belas pemerintahan Yosia bin Amon, raja Yehuda, sampai hari ini, jadi sudah dua puluh tiga tahun lamanya, firman TUHAN datang kepadaku dan terus-menerus aku mengucapkannya kepadamu, tetapi kamu tidak mau mendengarkan." (Yeremia 25:3)
Dua puluh tiga tahun. Waktu yang tidak sebentar. Selama dua puluh tiga tahun, nabi Yeremia tidak pernah lelah menyampaikan pesan yang sama. Tuhan terus berbicara, memperingatkan umat-Nya secara konsisten agar berbalik dari tingkah laku yang destruktif, namun mereka secara sadar menolak untuk memasang telinga.
Kenyataan ini sangat meresahkan.
Konteks ini menghantam keras realitas keluarga Kristen Indonesia masa kini. Di tengah himpitan tuntutan ekonomi, kemacetan jalanan yang menguras kewarasan, dan dorongan obsesif untuk mengamankan masa depan pendidikan anak, suara Tuhan perlahan tenggelam hingga tak terdengar lagi. Kita mengabaikan teguran-Nya. Bukan karena kita secara frontal memusuhi Tuhan, melainkan karena kita sekadar terlalu lelah dan sibuk. Kita mengganti mezbah keluarga dengan layar smartphone yang menyala tanpa henti. Orang tua yang kehabisan tenaga setelah bekerja seharian memandang momen doa bersama atau sekadar mendengarkan keluh kesah anak sebagai beban tambahan, bukan sebagai ruang pemulihan.
Akibatnya sangat fatal. Pelan-pelan kita memasuki masa "pembuangan" kita sendiri. Pembuangan dari damai sejahtera. Kita mengalami keterasingan spiritual di dalam rumah kita sendiri, di mana suami, istri, dan anak-anak tinggal di bawah satu atap yang mewah namun terpisahkan oleh tembok ketidakpedulian dan kebisuan yang luar biasa tebal.
Tuhan merindukan perhatian utuh kita.
Yeremia 25 bukan sekadar catatan sejarah tentang ancaman hukuman Babel, melainkan potret kasih Allah yang begitu gigih dan gigih mengejar keluarga Anda hari demi hari, memanggil Anda untuk membuang berhala-berhala modern berupa ambisi karier, gengsi sosial, dan kecanduan hiburan yang terus-menerus merampas afeksi Anda terhadap-Nya. Berhentilah sejenak. Evaluasi kembali arah langkah keluarga Anda hari ini. Dengarkan suara-Nya yang lembut sebelum krisis datang dan menghancurkan fondasi rumah tangga Anda. Kembalilah kepada-Nya.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
Jika Tuhan sudah "berbicara selama 23 tahun" kepada Yehuda, hal spesifik apa yang menurut Anda sedang Tuhan ingatkan berkali-kali kepada keluarga Anda belakangan ini?
Apa wujud "berhala modern" yang paling sering mencuri waktu berharga dan perhatian utama di tengah keluarga Anda?
Mengapa rasa lelah fisik akibat pekerjaan sering kali membuat kita menjadi kebas secara rohani dan sulit bersekutu dengan Tuhan?
Langkah praktis apa yang dapat diambil minggu ini untuk membangun kembali mezbah keluarga atau komunikasi spiritual bersama pasangan/anak?
Bagaimana cara kita membedakan antara rutinitas keluarga yang sehat dengan kesibukan yang justru membawa kita kepada "pembuangan" (kehilangan damai sejahtera)?
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang penuh kasih, ampunilah kami karena sering kali kami tuli terhadap suara-Mu di tengah kebisingan dunia ini. Kami mengaku bahwa kesibukan, kekhawatiran, dan ambisi kami kerap kali menggantikan takhta-Mu di dalam keluarga kami. Tolong kami, ya Roh Kudus, untuk meruntuhkan tembok ketidakpedulian di rumah kami. Berikan kami telinga seorang murid yang peka mendengarkan didikan-Mu setiap pagi. Pulihkanlah komunikasi di antara kami, dan jadikan keluarga kami sebagai tempat di mana nama-Mu selalu ditinggikan di atas segala-galanya. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.