Sabuk yang Lapuk
Menjaga Ikatan Kasih dan Kekudusan di Tengah Era Modern
Yeremia 13:11 (TB)
"Sebab seperti sabuk melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya seluruh kaum Israel dan seluruh kaum Yehuda Kulekatkan kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, supaya mereka menjadi umat-Ku, menjadi ternama, terpuji dan terhormat; tetapi mereka itu tidak mau mendengar."
Tuhan membayangkan hubungan-Nya dengan kita seperti sebuah sabuk kain lenan yang melekat erat di pinggang. Intim. Sangat dekat. Tidak ada jarak. Namun, dalam penglihatan Yeremia, sabuk itu disembunyikan di celah bukit batu, dibiarkan berhari-hari, hingga akhirnya menjadi lapuk dan tidak berguna lagi. Ini sebuah gambaran yang menggetarkan. Kesombongan dan jarak membuat apa yang tadinya berharga menjadi hancur.
Lihatlah keluarga-keluarga Kristen di Indonesia hari ini. Kita hidup di era yang serba cepat. Ayah dan ibu sibuk bekerja keras dari pagi hingga malam demi mencukupi kebutuhan, sementara anak-anak tenggelam dalam dunia virtual di layar gawai mereka. Kita tinggal di bawah satu atap. Kita makan di meja yang sama. Namun, jarak hati kita sering kali terasa sejauh ujung bumi. Ini kenyataan yang pahit. Ketika rutinitas dan kesibukan duniawi mengambil alih tempat utama Tuhan, perlahan-lahan keluarga kita sedang "disembunyikan di celah bukit batu". Tanpa disadari, kasih yang mula-mula mulai mendingin. Ikatan yang tadinya kuat mulai merapuh. Lapuk.
Tuhan memanggil kita untuk kembali. Ia ingin keluarga kita melekat erat pada pinggang-Nya. Menjadi umat yang terhormat dan memancarkan kemuliaan-Nya. Namun, hal itu tidak akan terjadi jika kita membiarkan kesombongan, keegoisan, dan dosa-dosa tersembunyi merusak tenunan keluarga kita. Kita harus mengambil langkah nyata. Matikan televisi, letakkan gawai, dan mulailah berbicara satu sama lain. Bangun kembali mezbah keluarga di rumah Anda. Menangislah bersama dalam doa. Biarkan firman Tuhan kembali menjahit benang-benang yang terputus, mengembalikan keintiman yang hilang, dan menjadikan keluarga kita alat yang indah di tangan-Nya.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel:
Menurut Anda, apa saja "celah bukit batu" di zaman modern ini yang sering membuat ikatan keluarga Kristen menjadi "lapuk" dan menjauh dari Tuhan?
Bagaimana kesombongan dapat merusak keintiman, baik dalam hubungan kita dengan Tuhan maupun dengan anggota keluarga yang lain?
Yeremia 13:11 menekankan kata "melekat". Praktik nyata apa yang bisa keluarga Anda lakukan minggu ini agar bisa kembali melekat erat kepada Tuhan?
Pernahkah Anda merasa hubungan keluarga Anda sedang berada dalam fase "lapuk"? Bagaimana cara Tuhan memulihkan kondisi tersebut?
Sebagai umat yang dipanggil untuk menjadi "ternama, terpuji, dan terhormat" bagi Tuhan, bagaimana gaya hidup keluarga Kristen seharusnya berbeda dari dunia di sekitarnya?
Doa Penutup:
Bapa di surga, ampunilah kami jika selama ini kami membiarkan kesibukan, kesombongan, dan dosa menjauhkan kami dari-Mu. Sering kali kami membiarkan ikatan keluarga kami menjadi lapuk karena mengabaikan hadirat-Mu di rumah kami. Tuhan, pulihkanlah kami. Tariklah kami kembali agar melekat erat kepada-Mu seperti sabuk di pinggang. Biarlah kasih, pengampunan, dan kekudusan kembali memerintah di dalam rumah tangga kami. Jadikan keluarga kami alat-Mu yang indah, yang membawa kemuliaan dan kehormatan bagi nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan berserah. Amin.