Saat Rumah Perlu Dibentuk Kembali
Renungan keluarga — 9 September 2026
Ayat Alkitab Pilihan
“Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”
“"Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!”
“Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka.”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Yeremia 18:4 — “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”
Di rumah, keretakan kadang bermula dari hal kecil. Jawaban yang ketus. Cerita anak yang terpotong karena orang tua sedang menatap layar. Permintaan maaf yang terus ditunda. Kita mungkin ingin segera memperbaiki semuanya, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Yeremia melihat tukang periuk mengerjakan kembali bejana yang rusak. Melalui gambaran itu, Tuhan berbicara kepada kaum Israel: mereka ada di tangan-Nya seperti tanah liat di tangan tukang periuk (Yeremia 18:6). Firman ini pertama-tama ditujukan kepada Israel, bukan janji bahwa setiap persoalan keluarga akan langsung selesai. Namun, firman ini mengajak kita memandang Tuhan dengan rendah hati. Kita tidak harus berpura-pura bahwa tidak ada yang retak.
Dalam Yeremia 18:8, Tuhan berbicara tentang bangsa yang berbalik dari kejahatannya, dan Ia tidak jadi mendatangkan malapetaka yang telah dirancangkan-Nya. Pertobatan bukan sekadar menyesali suasana rumah yang tidak nyaman; kita perlu bersedia meninggalkan sikap yang melukai. Mungkin hari ini langkahnya sederhana: meletakkan ponsel, mendengar sampai selesai, lalu berkata dengan jujur, “Maaf, aku salah.”
Rumah yang hangat tidak dibentuk dalam sehari. Di tengah kesibukan dan perbedaan antargenerasi, setiap anggota keluarga membutuhkan ruang untuk didengar tanpa segera dihakimi. Mari membawa bagian-bagian yang retak itu kepada Tuhan, sambil melakukan bagian kita dengan kasih dan kerendahan hati.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Kapan terakhir kali seseorang di rumah merasa ceritanya sungguh didengar?
- Sikap apa yang paling sering membuat percakapan keluarga menjadi sulit?
- Apa yang kita pelajari tentang Tuhan dari gambaran tukang periuk dalam Yeremia 18:4 dan 18:6?
- Mengapa mengakui kesalahan perlu diikuti perubahan sikap?
- Langkah kecil apa yang dapat kita lakukan minggu ini agar rumah terasa lebih aman untuk berbicara?
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih karena firman-Mu mengajak kami datang dengan jujur kepada-Mu. Ampuni sikap kami yang melukai orang-orang terdekat. Ajarlah kami mendengar dengan sabar, mengakui kesalahan, dan berubah dalam tindakan sehari-hari. Tolonglah keluarga kami merawat kasih, bahkan ketika prosesnya tidak mudah. Dalam nama Yesus, amin.