Ketika Teguran Menjadi Pintu Pulang
Renungan keluarga, 5 November 2026
Ayat Alkitab Pilihan
“Mungkin apabila kaum Yehuda mendengar tentang segala malapetaka yang Aku rancangkan hendak mendatangkannya kepada mereka, maka mereka masing-masing akan bertobat dari tingkah langkahnya yang jahat itu, sehingga Aku mengampuni kesalahan dan dosa mereka."”
“Setelah mereka mendengar segala perkataan itu, maka terkejutlah mereka dan berkata seorang kepada yang lain: "Kita harus dengan segera memberitahukan segala perkataan ini kepada raja!"”
“Elnatan, Delaya dan Gemarya memang mendesak kepada raja, supaya jangan membakar gulungan itu, tetapi raja tidak mendengarkan mereka.”
“Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Yeremia 36:3 — “Mungkin apabila kaum Yehuda mendengar tentang segala malapetaka yang Aku rancangkan hendak mendatangkannya kepada mereka, maka mereka masing-masing akan bertobat dari tingkah langkahnya yang jahat itu, sehingga Aku mengampuni kesalahan dan dosa mereka.”
Melalui Yeremia, Tuhan menyampaikan peringatan kepada kaum Yehuda dengan tujuan yang jelas: supaya mereka mendengar, bertobat, dan menerima pengampunan-Nya. Teguran itu bukan sesuatu yang ringan. Namun di dalamnya ada kesempatan untuk berbalik.
Di rumah, kita pun kadang perlu mendengar hal yang tidak nyaman. Seorang anak merasa pendapatnya selalu dipotong. Orang tua merasa lelahnya tidak terlihat. Pasangan menyadari bahwa kesibukan telah membuat percakapan mereka hanya berisi urusan sehari-hari. Mudah sekali membela diri sebelum sungguh-sungguh mendengar. Berhentilah sejenak.
Yeremia 36 memperlihatkan beragam tanggapan terhadap perkataan yang didengar. Ada orang-orang yang terkejut dan segera ingin menyampaikannya kepada raja (ayat 16). Elnatan, Delaya, dan Gemarya mendesak raja agar tidak membakar gulungan itu, tetapi raja tidak mendengarkan mereka (ayat 25). Setelah gulungan itu dibakar, perkataan tersebut dituliskan kembali melalui Yeremia dan Barukh (ayat 32). Penolakan raja tidak membuat pesan itu hilang.
Kisah ini berbicara tentang respons terhadap firman Tuhan, bukan tentang cara memenangkan setiap perbedaan pendapat dalam keluarga. Meski demikian, kisah ini mengajak kita memeriksa hati: ketika mendengar sesuatu yang menyingkap kesalahan kita, apakah kita memberi ruang untuk bertobat? Mendengarkan dengan penuh perhatian bukan berarti setiap ucapan orang lain pasti benar. Kita tetap perlu mempertimbangkannya dengan jujur, tanpa buru-buru menutup percakapan.
Hari ini, mungkin langkah pertama untuk menghangatkan rumah sederhana saja: letakkan gawai, tatap orang yang berbicara, dan tanyakan, “Apa yang belum kupahami?” Jika kita bersalah, akuilah. Mintalah maaf. Keluarga tidak menjadi kuat karena tak pernah terluka, melainkan karena setiap anggotanya mau belajar mendengar dan berbalik dari kesalahan, sambil berharap pada pengampunan Tuhan.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Bagian mana dari Yeremia 36:3 yang paling mengajak kita memeriksa hati? Mengapa?
- Apa yang biasanya membuat kita sulit mendengar teguran dari anggota keluarga?
- Bagaimana kita bisa menyampaikan hal yang menyakitkan hati tanpa membuat orang lain takut untuk berbicara?
- Apa perbedaan antara mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan langsung menyetujui semua yang kita dengar?
- Langkah kecil apa yang dapat keluarga kita lakukan minggu ini untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan?
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih karena firman-Mu mengajak kami untuk mendengar dan bertobat. Lembutkan hati kami ketika diingatkan akan kesalahan. Ajarlah keluarga kami berbicara dengan jujur, mendengarkan dengan sabar, dan meminta maaf tanpa mencari alasan. Tolong kami membangun rumah tempat setiap anggota merasa aman untuk didengar dan bersama-sama belajar menaati-Mu. Amin.