Dua Keranjang Buah Ara
Memilih Hati yang Diubahkan di Tengah Panggilan Keluarga
Yeremia 24:6-7 (TB)
"Aku akan mengarahkan mata-Ku kepada mereka untuk kebaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke negeri ini. Aku akan membangun mereka, bukan meruntuhkannya; Aku akan menanam mereka, bukan mencabutnya. Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya."
Keluarga adalah ruang transisi.
Di sanalah kita dibentuk, diuji, dan sering kali dihancurkan sebelum akhirnya dibangun kembali. Dalam penglihatan Yeremia, Tuhan menunjukkan dua keranjang buah ara yang diletakkan di depan bait suci—satu berisi buah ara yang sangat baik, dan yang lainnya sangat jelek sehingga tidak bisa dimakan. Logika manusia kita mungkin menebak bahwa buah ara yang baik melambangkan orang-orang yang hidup nyaman, sejahtera, dan terhindar dari krisis. Namun, firman Tuhan memutarbalikkan persepsi itu. Buah ara yang baik justru adalah mereka yang dibuang ke Babel. Mereka yang kehilangan rumah, kehilangan zona nyaman, dan harus menempuh proses pembuangan yang menyakitkan.
Keluarga Kristen Indonesia hari ini tidak kebal terhadap "pembuangan" modern. Wujudnya bermacam-macam. Ada krisis finansial yang mencekik perlahan. Ada tekanan budaya untuk selalu tampil sukses di tengah keluarga besar. Ada konflik suami istri yang tak kunjung usai, atau pemberontakan anak remaja yang membuat suasana meja makan terasa sedingin es. Kita sering mengira bahwa masalah-masalah ini adalah tanda kebinasaan atau hukuman. Kita menolaknya. Kita berontak mencari jalan keluar instan agar penderitaan segera berakhir.
Tuhan bekerja dalam diam.
Sama seperti umat Yehuda yang harus melewati masa pembuangan untuk disucikan, Tuhan kadang mengizinkan keluarga kita melewati lembah kekelaman agar kita berhenti bersandar pada ego kita sendiri. "Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku." Inilah inti dari semuanya. Proses penderitaan, gesekan antar pasangan, dan kesulitan mendidik anak bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan keluarga Anda. Sebaliknya, itu adalah tungku perapian di mana Tuhan sedang mencabut kesombongan kita dan menanamkan kerendahan hati.
Pilihlah untuk menjadi buah ara yang baik. Jangan lari dari proses. Di tengah kelelahan sepulang kerja, saat Anda harus menghadapi cucian menumpuk atau tagihan yang belum terbayar, izinkan Tuhan membentuk karakter Anda. Menjadi keluarga Kristen bukan tentang memiliki foto keluarga yang sempurna tanpa cela, melainkan tentang memiliki hati yang terus-menerus kembali dan bertobat kepada-Nya dengan segenap jiwa.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
Saat membaca tentang "buah ara yang baik" yang justru harus melewati masa pembuangan, apa pandangan baru yang Anda dapatkan mengenai pergumulan atau krisis dalam keluarga?
Dalam kehidupan keluarga Anda saat ini, apakah ada situasi sulit yang mungkin sedang Tuhan pakai untuk "memberi Anda hati yang lebih mengenal Dia"?
Kita sering kali ingin menghindari proses yang menyakitkan. Bagaimana kita dapat saling mendukung sebagai komunitas orang percaya agar tidak menyerah saat Tuhan sedang membentuk keluarga kita?
Apa hal-hal spesifik dari budaya atau lingkungan sekitar yang sering membuat kita kehilangan fokus dalam membangun keluarga yang berpusat pada Kristus?
Komitmen praktis apa yang bisa kita ambil minggu ini untuk merespons proses Tuhan dengan segenap hati, alih-alih memberontak atau mengeluh?
Doa Penutup
Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang tidak pernah selesai bekerja dalam hidup kami. Ampuni kami jika selama ini kami sering menolak proses-Mu dan hanya mencari kenyamanan instan dalam keluarga kami. Buka mata rohani kami untuk melihat bahwa di balik setiap gesekan, kesulitan, dan tantangan yang kami hadapi di rumah, Engkau sedang membentuk kami. Berikanlah kami hati yang baru, hati yang sungguh-sungguh mengenal Engkau. Jadikan keluarga kami sebagai tempat di mana kehendak-Mu bertumbuh, dan di mana kasih-Mu memulihkan setiap kelemahan kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan berserah. Amin.