Berani Mengatakan, “Aku Tidak Aman”
Renungan Keluarga • 6 November 2026
Ayat Alkitab Pilihan
“Sekarang, dengarkanlah, hai tuanku raja! Biarlah permohonanku sampai di hadapanmu: janganlah kembalikan aku ke rumah panitera Yonatan, nanti aku mati di sana."”
“Raja Zedekia memberi perintah, lalu orang menahan Yeremia di pelataran penjagaan dan memberikan setiap hari kepadanya sepotong roti dari jalan tukang roti, sampai pada waktu segala roti habis di kota itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Ayat pilihan — Yeremia 37:20: “Sekarang, dengarkanlah, hai tuanku raja! Biarlah permohonanku sampai di hadapanmu: janganlah kembalikan aku ke rumah panitera Yonatan, nanti aku mati di sana.”
Yeremia tidak menyembunyikan ketakutannya. Ia menyebut tempat yang tidak aman baginya dan memohon agar tidak dikembalikan ke sana. Permintaannya jelas. Hidupnya dipertaruhkan.
Di rumah, tidak semua permohonan terdengar sedesak itu. Seorang anak mungkin hanya berkata bahwa ia takut bercerita. Pasangan kita mungkin mengaku sudah terlalu lelah. Di tengah rutinitas dan layar yang terus meminta perhatian, mudah sekali menanggapi dengan terburu-buru. Namun, bagaimana jika kita berhenti sejenak dan sungguh mendengar?
Yeremia 37:21 mencatat bahwa Raja Zedekia memerintahkan agar Yeremia ditahan di pelataran penjagaan dan diberi sepotong roti setiap hari, sampai roti di kota itu habis. Yeremia tetap ditahan; keadaannya belum menjadi baik. Ayat ini tidak mengajak kita menyebut keadaan yang sulit sebagai keadaan yang aman. Justru di tengah keterbatasan itu, kita melihat pentingnya menanggapi permohonan yang nyata dengan tindakan yang nyata.
Keluarga yang tangguh bukan keluarga yang selalu punya jawaban. Keluarga yang tangguh mau memberi ruang bagi setiap anggotanya untuk berkata jujur tanpa takut langsung dihakimi. Hari ini, mungkin kasih dimulai dari satu kalimat sederhana: “Ceritakan kepadaku. Aku mau mendengar.”
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Apa yang paling sulit bagi kita saat hendak mengatakan bahwa kita takut atau membutuhkan pertolongan?
- Kapan kita merasa sungguh didengarkan oleh anggota keluarga?
- Apa yang bisa membuat rumah terasa lebih aman untuk bercerita dengan jujur?
- Bagaimana kita dapat menanggapi kebutuhan anggota keluarga dengan tindakan sederhana, meski belum bisa menyelesaikan seluruh masalahnya?
- Siapa di rumah yang perlu kita dengarkan tanpa terburu-buru hari ini?
Doa Penutup
Tuhan, ajar kami berani berkata jujur saat membutuhkan pertolongan. Lembutkan hati kami agar mau mendengar sebelum menghakimi, dan tuntun kami menanggapi kebutuhan keluarga dengan kasih yang nyata. Amin.