Berani Melunakkan Hati
Ketangguhan keluarga dimulai saat kita mau mengakui kesalahan
Ayat Alkitab Pilihan
“"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan ke atas kota ini dan ke atas segala kota sekitarnya seluruh malapetaka yang telah Kukatakan akan menimpa mereka, sebab mereka berkeras kepala dan tidak mendengarkan perkataan-perkataan”
Alkitab Terjemahan Baru (TB) © Lembaga Alkitab Indonesia.
Yeremia 19:15 — “mereka berkeras kepala”
Firman Tuhan melalui Yeremia menyampaikan peringatan kepada sebuah kota yang tidak mau mendengarkan perkataan-Nya. Ini adalah peringatan yang serius, bukan gambaran bahwa setiap pertengkaran keluarga akan mendatangkan malapetaka yang sama. Namun, sikap keras kepala yang disebut dalam ayat ini patut kita periksa dalam diri sendiri.
Di rumah, keras kepala kadang terdengar seperti kalimat sederhana: “Aku tidak salah.” Kita mungkin mengucapkannya saat lelah, saat merasa tidak dimengerti, atau saat anak dan orang tua memandang persoalan dari sisi yang berbeda. Lalu percakapan berhenti. Rumah tetap ramai, tetapi seseorang merasa sendirian.
Pada 10 September ini, mari berhenti sejenak sebelum membela diri. Adakah perkataan Tuhan yang sedang kita abaikan? Adakah anggota keluarga yang perlu mendengar kita berkata, “Maaf, aku mau memperbaikinya”? Mengakui kesalahan tidak membuat keluarga lemah. Justru ketika setiap orang bersedia merendahkan hati, rumah dapat menjadi tempat yang lebih aman untuk berkata jujur, saling menolong, dan bertumbuh bersama.
Pertanyaan Diskusi Kelompok Sel
- Kapan kita paling sulit mengakui bahwa kita salah?
- Apa yang biasanya terjadi di rumah ketika seseorang bersikeras mempertahankan pendapatnya?
- Bagaimana kita dapat memberi ruang bagi anggota keluarga untuk berbicara tanpa takut dihakimi?
- Adakah permintaan maaf atau percakapan yang selama ini kita tunda?
- Langkah kecil apa yang bisa kita lakukan bersama minggu ini untuk lebih terbuka terhadap firman Tuhan?
Doa Penutup
Tuhan, ampuni kami ketika kami berkeras kepala dan enggan mendengarkan firman-Mu. Lembutkan hati kami agar berani mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk berbicara. Tolong kami membangun rumah yang penuh kasih dan saling menopang. Amin.